Ketua Jabar Saber Hoaks (JSH), Alfianto Yustinova, juga menekankan pentingnya sosialisasi langkah-langkah pencegahan hoaks kepada masyarakat secara terus-menerus. Masyarakat perlu lebih waspada dan tidak mudah terpengaruh oleh berita bohong.
Sosialisasi yang berkelanjutan akan membantu masyarakat mengenali ciri-ciri berita hoaks, seperti judul yang bombastis, permintaan untuk disebarkan, ketidaksesuaian antara judul dan isi, serta penggunaan nama pesohor atau lembaga terpercaya untuk meningkatkan kredibilitas palsu.
Mudiyati Rahmatunnisa, Ketua Program Studi Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Padjadjaran, mengingatkan bahwa potensi hoaks selalu besar dalam setiap pemilu atau Pilkada, terlebih di Indonesia dengan jumlah pengguna media sosial yang sangat tinggi. Data menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia mencapai 185,8 juta, yang sebagian besar juga pengguna media sosial.
Hal ini menjadi ladang subur bagi penyebaran hoaks. Masyarakat harus terus diingatkan tentang bahaya hoaks yang bisa mendelegitimasi hasil Pilkada dan mengacaukan informasi. Penggunaan media video editan juga menambah bahaya penyebaran hoaks karena lebih mudah dipercaya oleh masyarakat.
Agar Pilkada 2024 berjalan lancar dan damai, semua pihak harus bersinergi dalam menangkal hoaks. Deteksi dini, sosialisasi pencegahan, serta peran aktif tokoh agama dan masyarakat sangat diperlukan. Sinergi seluruh elemen masyarakat sangat penting dalam menangkal hoaks jelang Pilkada. Kita semua memiliki peran dan tanggung jawab untuk memastikan informasi yang diterima dan disebarkan adalah akurat.
Mari bersama-sama menjaga integritas Pilkada 2024, melaporkan setiap indikasi hoaks atau politik uang, dan memastikan proses demokrasi berjalan lancar. Bersama, kita bisa mewujudkan Pilkada yang aman, damai, dan sukses. Jangan biarkan berita bohong merusak masa depan kita. Tetap kritis, tetap waspada, dan berkontribusilah demi kebaikan bersama.
)* Penulis adalah kontributor Ruang Baca Nusantara
