Oleh: Jayanti Lukito)*
Nilai tukar rupiah memiliki makna lebih dari sekadar angka yang bergerak setiap hari di pasar keuangan, namun juga cerminan dari kepercayaan terhadap perekonomian nasional. Ketika tekanan terhadap mata uang meningkat, dampaknya dapat menjalar ke berbagai sektor, mulai dari biaya impor bahan baku dan energi hingga harga barang yang dikonsumsi masyarakat.
Karena itu, optimisme terhadap rupiah perlu dibangun di atas dua pijakan yang saling melengkapi, yakni fundamental ekonomi yang terjaga dan kebijakan yang mampu menjawab sumber tekanan secara terukur. Keyakinan terhadap ketahanan ekonomi penting untuk menjaga kepercayaan, tetapi harus disertai langkah konkret agar optimisme tidak berhenti sebagai pernyataan, melainkan tercermin dalam stabilitas pasar dan kegiatan ekonomi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan optimisme bahwa rupiah tidak akan menembus level Rp19.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Ia menilai kondisi makroekonomi Indonesia masih relatif stabil, meskipun pergerakan mata uang Garuda menghadapi tekanan dari dinamika global dan sentimen pasar domestik.
Optimisme tersebut patut menjadi pengingat bahwa pelemahan nilai tukar perlu dibaca secara menyeluruh, bukan hanya berdasarkan pergerakan harian. Namun, ketahanan fundamental tidak berarti Indonesia terbebas dari risiko, sebab perubahan harga energi, penguatan dolar AS, dan pergeseran arus modal internasional tetap dapat memengaruhi nilai tukar.
Data cadangan devisa memberikan salah satu gambaran mengenai kemampuan Indonesia menghadapi tekanan eksternal. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa pada akhir September 2026 sebesar 146,3 miliar dolar AS, sementara bank sentral juga menjalankan langkah stabilisasi melalui transaksi di pasar valuta asing dan pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.