Oleh: Muryati Pamungkas)*
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) merupakan persoalan yang dampaknya melampaui kawasan yang terbakar. Sehingga penanganannya membutuhkan respons cepat serta koordinasi yang terencana.
Keberhasilan mengendalikan karhutla tidak hanya ditentukan oleh kemampuan memadamkan api, tetapi juga oleh kecepatan mendeteksi titik kebakaran, kesiapan personel, dan ketepatan mengerahkan peralatan. Semakin cepat api ditangani, semakin besar peluang mencegah kebakaran meluas dan mengurangi sumber daya yang diperlukan untuk pemadaman.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Kristomei Sianturi menegaskan bahwa kecepatan respons menjadi kunci pengendalian karhutla. Ia menjelaskan setiap menit sangat menentukan karena keterlambatan penanganan dapat membuat api meluas ke wilayah lain dan membutuhkan waktu serta sumber daya lebih besar untuk dipadamkan.
Kesiapsiagaan menjadi Langkah penting sebelum kebakaran membesar. Pemantauan titik panas, patroli di kawasan rawan, pelaporan kondisi lapangan, dan kesiapan tim pemadam perlu berjalan sebagai satu rangkaian agar tindakan awal dapat dilakukan tanpa menunggu situasi berkembang menjadi lebih sulit dikendalikan.
Kristomei juga menekankan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Menurut dia, pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat, dan unsur terkait perlu bersinergi, sementara laporan kondisi terkini menjadi dasar untuk menentukan bantuan yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik wilayah terdampak.