Koordinasi kebijakan fiskal dan moneter menjadi kunci untuk memastikan tekanan eksternal tidak berkembang menjadi persoalan ekonomi yang lebih luas. Pemerintah perlu mempertahankan disiplin fiskal, meningkatkan efektivitas belanja negara, dan mempercepat investasi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja. Di sisi lain, Bank Indonesia perlu menjaga stabilitas rupiah dan inflasi tanpa mengabaikan kebutuhan pembiayaan kegiatan ekonomi. Komunikasi kebijakan yang transparan juga penting untuk menjaga kepercayaan masyarakat serta mencegah berkembangnya kekhawatiran yang tidak didukung data.
Selain itu, Penguatan rupiah perlu didukung oleh peningkatan daya saing ekonomi dan pengurangan ketergantungan terhadap impor. Pemerintah dapat memperkuat hilirisasi, meningkatkan ekspor produk bernilai tambah, serta mendorong investasi produktif. Langkah tersebut diharapkan memperkuat penerimaan devisa, menciptakan lapangan kerja, dan membangun struktur ekonomi nasional yang lebih tangguh menghadapi tekanan global.
Kekuatan ekonomi nasional tidak dapat diukur hanya dari tinggi atau rendahnya nilai tukar rupiah. Pertumbuhan ekonomi, stabilitas harga, penciptaan lapangan kerja, produktivitas industri, dan ketahanan eksternal harus menjadi bagian dari penilaian yang utuh. Pelemahan rupiah memang menghadirkan tantangan, tetapi tidak otomatis menandakan bahwa ekonomi Indonesia rapuh. Dengan koordinasi kebijakan yang konsisten, penguatan sektor produktif, serta pengelolaan risiko yang terukur, Indonesia memiliki peluang untuk menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi perekonomian yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan.
)* Pemerhati Isu Ekonomi