Ia mencontohkan Sekolah Rakyat yang membuka akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Sementara MBG tidak hanya mendukung pemenuhan gizi, tetapi juga menggerakkan aktivitas ekonomi dan membuka lapangan pekerjaan di daerah.
“MBG bukan hanya sekadar memberi makan, tetapi ekonomi di sekitar dapur, bahkan di desa, juga berputar. Pekerja-pekerja yang tadinya menganggur mendapatkan pekerjaan, emak-emak yang tadinya tidak punya pekerjaan ikut turut membantu,” katanya.
Meski demikian, Ujang mengingatkan pentingnya pengawasan dan perbaikan tata kelola agar seluruh program pemerintah berjalan efektif serta tepat sasaran.
Senada, pengamat ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, menilai penguatan ekonomi kerakyatan menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pembangunan nasional di tengah ketidakpastian global.