Sementara, Prof Perdana menyebutkan daya beli masyarakat untuk konsumsi berada di atas 5,8 persen. Hal ini tentu akan menjaga optimisme dan kestabilan masyarakat, karena setelah stabilitas makro bisa dijaga, kita bisa melihat dampaknya terhadap sektor-sektor ekonomi di bawahnya.
Pengamat GREAT Institute Prof Perdana Wahyu menjelaskan investasi Indonesia yang diumumkan Pak Rosan telah mencapai Rp1.575 triliun, atau sekitar 75 persen dari target tahun 2026.
“Capaian itu juga sekitar 7 persen di atas tahun lalu, sehingga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian nasional,” ucapnya.
Ditambahkannya ketika investor asing masuk dan melakukan industrialisasi serta hilirisasi, tentu itu akan berdampak positif kepada perekonomian kita.
“Masuknya investasi dalam bentuk mata uang asing juga memberikan sisi positif di tengah perubahan nilai tukar rupiah”, pungkasnya.
Prof Perdana juga menilai program Makan Bergizi Gratis sekarang serapannya sudah sekitar Rp150 triliun. Berarti ada uang sekitar Rp150 triliun yang berputar dalam ekonomi kerakyatan, di akar rumput, dan itu sudah sedikit banyak menggerakkan perekonomian pedesaan.
“Program MBG juga menciptakan berbagai lapangan kerja dan banyak vendor kebutuhan pokok. Permintaan telur, ayam, daging, sayuran, dan bahan pangan lainnya akan menciptakan multiplier effect terhadap perekonomian, khususnya di pedesaan”, tandasnya.