Sejalan dengan itu, Guru Besar Ekonomi Universitas YARSI, Prof. Perdana Wahyu Santosa, menyoroti perkembangan positif indikator kesejahteraan masyarakat yang dapat menjadi landasan bagi penguatan program perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
“Tingkat Pengangguran Terbuka turun menjadi 4,65 persen pada Mei 2026, sementara persentase penduduk miskin menurun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026. Capaian ini menunjukkan perkembangan positif dalam perekonomian nasional yang perlu terus diperkuat melalui kebijakan pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Memasuki tahun ketiga, keberlanjutan program sosial menjadi momentum penting untuk memperkuat pemerataan pembangunan. Integrasi bantuan sosial, pendidikan, pemenuhan gizi, dan pemberdayaan ekonomi diharapkan mampu menciptakan manfaat berkelanjutan sekaligus memperluas kesempatan masyarakat meningkatkan taraf hidup.
Dengan tata kelola yang semakin baik, berbagai program prioritas tersebut berpeluang menjadi fondasi pengentasan kemiskinan dan peningkatan kualitas manusia Indonesia. (*)
