Cadangan Beras Kuat, Indonesia Lebih Tenang Hadapi El Nino

Oleh : Abdul Razak)*

Ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi pertanian menempatkan ketahanan pangan Indonesia pada ujian penting. Namun, cadangan beras pemerintah yang mencapai 4,5 juta ton pada Oktober 2026 memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan, mengendalikan gejolak harga, dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Tantangan berikutnya adalah memastikan kekuatan stok tersebut berjalan seiring dengan keberlanjutan produksi di tengah risiko kekeringan.

Perum Bulog memperkirakan ketersediaan beras nasional mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juli 2027. Proyeksi ini memperhitungkan stok yang dikuasai Bulog, persediaan di masyarakat, serta produksi dalam negeri yang diperkirakan berlangsung selama periode tersebut. Dengan kebutuhan beras sekitar 2,2 juta ton per bulan, ketersediaan pangan menjadi instrumen strategis untuk menghadapi kemungkinan berkurangnya hasil panen akibat perubahan iklim.

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, persediaan beras nasional terdiri atas sekitar 4,5 juta ton stok Bulog, 10 juta ton beras di masyarakat, serta proyeksi produksi dalam negeri sebesar 9 juta hingga 10 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan diperkirakan mencapai 23,5 juta hingga 24,5 juta ton. Jumlah tersebut secara teoritis mencukupi kebutuhan hingga Juli 2027, dengan potensi sisa sekitar 2 juta ton berdasarkan asumsi kebutuhan yang digunakan.

Perhitungan ini memperlihatkan pentingnya cadangan pangan sebagai penyangga ketika produksi menghadapi tekanan. Meski demikian, proyeksi ketersediaan tetap perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan realisasi panen, perkembangan konsumsi, distribusi antardaerah, serta tingkat kehilangan hasil. Ketersediaan secara agregat juga harus diikuti kemampuan menyalurkan beras ke wilayah yang mengalami gangguan pasokan.

Pos terkait