Di Jawa Tengah, Bulog mencatat stok beras sebanyak 465 ribu ton setara beras menjelang akhir tahun. Penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai 116 ribu ton, melampaui target 101 ribu ton atau setara 114,72 persen. Penyaluran rata-rata mencapai 110 ton per hari. Capaian ini menunjukkan bahwa cadangan perlu dikelola secara aktif melalui distribusi, bukan sekadar disimpan sebagai persediaan.
Beras SPHP juga berperan dalam menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen. Di Zona 1, harga eceran tertinggi beras SPHP medium ditetapkan Rp12.500 per kilogram, sedangkan beras medium non-SPHP memiliki HET Rp13.500 per kilogram. Melalui intervensi tersebut, pemerintah memiliki instrumen untuk meredam tekanan harga ketika pasokan di pasar mengalami gangguan, dengan tetap memperhatikan kelancaran distribusi dan ketersediaan di tingkat pengecer.
Selain stabilisasi pasar, cadangan beras menjadi dasar pelaksanaan bantuan pangan tambahan pada Oktober, November, dan Desember 2026. Kebijakan ini penting untuk menjaga daya beli rumah tangga yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Ketepatan sasaran, ketepatan waktu penyaluran, dan kecukupan pasokan perlu menjadi ukuran utama keberhasilannya.
Ke depan, tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan cadangan beras dalam jumlah besar, melainkan memastikan sistem pangan mampu bertahan menghadapi tekanan iklim secara berkelanjutan. Risiko penurunan produksi di negara produsen lain juga menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada impor tidak selalu menjadi pilihan yang mudah ketika pasar internasional mengalami gangguan.
Dengan cadangan yang kuat, penyerapan hasil panen, stabilisasi harga, bantuan pangan, dan mitigasi kekeringan yang berjalan beriringan, Indonesia memiliki fondasi lebih kokoh untuk menghadapi El Nino. Ketahanan pangan yang sesungguhnya tidak semata-mata diukur dari banyaknya beras di gudang, tetapi dari kemampuan negara memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan dapat diakses masyarakat tanpa mengabaikan kesejahteraan petani serta keberlanjutan produksi nasional.