Di tengah ketidakpastian ekonomi dunia, pengelolaan kebijakan energi juga diarahkan untuk menjaga keseimbangan fiskal. Dengan ruang anggaran yang tetap sehat, pemerintah dapat terus mengalokasikan pembiayaan bagi sektor-sektor prioritas seperti pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, pembangunan infrastruktur, serta ketahanan pangan.
Sejumlah pengamat ekonomi dan pakar energi menilai keputusan Pertamina dalam mengelola harga BBM non-subsidi sebagai kebijakan yang sangat rasional dan penuh perhitungan. Melalui penerapan strategi penghalusan harga (price smoothing), Pertamina terbukti berperan sebagai shock absorber ketika harga minyak dunia melonjak tajam pada periode-periode sebelumnya. Pendekatan tersebut dinilai mampu meredam dampak fluktuasi harga global terhadap masyarakat dan dunia usaha.
Implementasi kebijakan tersebut terlihat pada evaluasi harga yang dilakukan Pertamina Patra Niaga terhadap sejumlah produk BBM non-subsidi di berbagai wilayah, termasuk Sulawesi. Vice President Corporate Communication PT Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora mengatakan penyesuaian harga ini merupakan bagian dari evaluasi berkala sesuai mekanisme yang berlaku, dengan mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia, pertimbangan aspek fiskal serta daya beli dan perekonomian masyarakat.
Melalui evaluasi berkala tersebut, produk BBM non-subsidi jenis gasoil (diesel) dan gasoline dengan oktan tinggi mengalami penurunan harga yang cukup signifikan. Sementara itu, harga BBM Subsidi (Pertalite dan Biosolar) serta Pertamax (RON 92) dipastikan tetap untuk menjaga stabilitas daya beli masyarakat. Kondisi ini menunjukkan bahwa evaluasi harga tidak selalu berujung pada kenaikan, melainkan dapat berupa penurunan ketika kondisi pasar memungkinkan.
Kepastian mekanisme penyesuaian harga memberikan sinyal positif bagi pelaku usaha karena pengelolaan sektor energi dilakukan secara terukur dan berdasarkan evaluasi yang berkesinambungan. Kepastian tersebut membantu dunia usaha dalam menyusun perencanaan operasional sekaligus menjaga iklim investasi yang kondusif.