ALOR TIMUR, WARTAALOR.COM – Penantian panjang masyarakat Kampung Lama Yesu dan Salimana, Desa Kolana Selatan, Kecamatan Alor Timur, Kabupaten Alor, akhirnya berbuah hasil. Setelah puluhan tahun hidup dalam keterisolasian akibat minimnya akses transportasi darat, warga kini dapat menikmati jalan ekonomi yang menghubungkan wilayah mereka dengan pusat-pusat aktivitas masyarakat.
Momentum bersejarah tersebut ditandai dengan syukuran adat yang berlangsung di Mesbah Kampung Salimana pada Rabu (10/6/2026). Dalam suasana penuh haru, masyarakat adat memberikan penghormatan khusus kepada Anggota DPRD Kabupaten Alor dari Fraksi NasDem, Joni Tulimau, yang dinilai telah memperjuangkan pembangunan akses jalan menuju wilayah tersebut.
Seorang tetua adat mewakili masyarakat menyampaikan ungkapan syukur atas terwujudnya harapan yang telah diperjuangkan selama puluhan tahun.
“Sejak sekitar 50 tahun lalu kami meninggalkan kampung ini, dan sejak tahun 2003 kami terus mengusulkan pembangunan jalan ekonomi menuju wilayah kami. Hari ini, melalui perjuangan Bapak Joni Tulimau sebagai anggota DPRD, kerinduan dan harapan masyarakat akhirnya terjawab. Kami sangat berterima kasih karena beliau telah mendengar dan memperjuangkan aspirasi kami,” ungkap tetua adat tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan adat, masyarakat Salimana memakaikan sarung tenun khas Alor Timur kepada Joni Tulimau. Dalam prosesi adat yang berlangsung khidmat itu, Joni juga dinobatkan sebagai “Putra Salimana”, sebuah gelar kehormatan yang mencerminkan kedekatan emosional dan kontribusinya bagi masyarakat setempat.
Ungkapan syukur tidak hanya datang dari warga yang berada di kampung halaman. Roni Mayopu, Kepala Suku Mapumolama yang saat ini berada di Kupang, turut menyampaikan apresiasi atas perjuangan yang telah membuahkan hasil tersebut. Menurutnya, akses jalan yang kini terbuka menjadi harapan baru bagi generasi muda dan masyarakat adat yang selama ini merindukan kemajuan di kampung leluhur mereka.
Dalam sambutannya, Joni Tulimau mengaku terharu menerima penghormatan yang diberikan masyarakat. Ia mengatakan bahwa keterbatasan anggaran daerah tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan kebutuhan dasar masyarakat, terutama akses jalan yang berperan penting dalam meningkatkan perekonomian warga.
Menurutnya, pembukaan jalan dari kawasan Kali Kura menuju pegunungan Salimana akan memberikan dampak signifikan bagi aktivitas ekonomi masyarakat, khususnya dalam mendukung distribusi hasil pertanian dan perkebunan seperti kemiri yang selama ini sulit dipasarkan akibat keterbatasan akses transportasi.
“Jalan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Saya juga mengajak seluruh warga untuk menjaga kelestarian lingkungan dengan tidak melakukan penebangan pohon secara sembarangan. Alam harus dijaga agar pembangunan yang kita nikmati hari ini tidak menimbulkan bencana di kemudian hari,” kata Joni.
Ia juga berharap masyarakat dapat menjaga persatuan dan menghindari potensi konflik terkait pemanfaatan lahan di sepanjang jalur jalan yang telah dibuka. Menurutnya, pembangunan infrastruktur harus menjadi sarana pemersatu dan pendorong kemajuan bersama.
Ke depan, Joni berkomitmen untuk terus memperjuangkan peningkatan kualitas jalan tersebut agar dapat dilalui secara optimal sepanjang tahun, termasuk pada musim hujan ketika wilayah pegunungan sering mengalami kendala akses akibat kondisi jalan yang berlumpur.
Prosesi adat diakhiri dengan pelukan hangat antara tetua adat dan Joni Tulimau, yang menjadi simbol kuat berakhirnya keterisolasian yang selama puluhan tahun membelenggu masyarakat Salimana dan Kampung Lama Yesu.
Bagi warga setempat, kehadiran jalan baru ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan lahirnya harapan baru bagi masa depan kampung mereka. Setelah puluhan tahun menanti, masyarakat kini optimistis akses yang telah terbuka akan menjadi pintu masuk bagi peningkatan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan generasi mendatang. ***(joka)
