KALABAHI, WARTAALOR.COM – Proyek pembangunan sumur bor yang dibiayai melalui Dana Desa (DD) di Desa Mauta, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor, kembali menjadi sorotan publik. Dua proyek sumur bor yang dikerjakan pada tahun anggaran 2022 dan 2025 hingga kini dilaporkan belum tuntas dan belum dapat dimanfaatkan masyarakat, meskipun realisasi keuangan disebut telah mencapai 100 persen.
Dikutip dari victorynews.id, informasi yang dihimpun menyebutkan, proyek sumur bor tahun anggaran 2022 dikerjakan oleh Irfan, sedangkan proyek tahun anggaran 2025 dikerjakan oleh Muklis dengan nilai anggaran lebih dari Rp200 juta. Namun hingga pertengahan Juni 2026, kedua proyek tersebut belum berfungsi optimal untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat setempat.
Direktur LSM Lintas Khatulistiwa, Pontius Wali Mau, menilai kondisi tersebut patut mendapat perhatian aparat penegak hukum karena terdapat dugaan ketidaksesuaian antara realisasi fisik dan realisasi keuangan proyek.
“Kita patut menduga apabila kondisi di lapangan memang menunjukkan pekerjaan fisik belum selesai sementara pencairan anggaran sudah mencapai 100 persen, maka terdapat indikasi pelanggaran hukum yang berpotensi merugikan keuangan negara atau daerah,” kata Pontius kepada Victorynews.id, Minggu (14/6/2026).
Menurutnya, Kejaksaan Negeri (Kejari) Alor perlu segera melakukan pengumpulan bahan dan keterangan (pulbaket) guna memastikan ada atau tidaknya penyimpangan dalam pelaksanaan proyek tersebut.
Pontius menegaskan, penanganan dugaan penyimpangan dana desa seharusnya tidak hanya difokuskan pada proyek Lampu Penerangan Jalan Umum (LPJU) yang saat ini tengah menjadi perhatian Kejaksaan Negeri Alor.
