Oleh : Antonius Utomo
Pembangunan Museum Marsinah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, menjadi salah satu simbol penting dalam perjalanan bangsa Indonesia dalam menghargai sejarah perjuangan buruh sekaligus menegaskan komitmen pemerintah terhadap peningkatan kesejahteraan pekerja. Kehadiran museum ini bukan sekadar proyek fisik, melainkan representasi konkret dari pengakuan negara terhadap peran buruh dalam pembangunan nasional, sekaligus refleksi dari upaya membangun hubungan industrial yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang terus berkembang.
Nama Marsinah sendiri telah lama menjadi simbol perjuangan hak-hak buruh di Indonesia. Kisah hidupnya sebagai pekerja pabrik sekaligus aktivis yang memperjuangkan upah layak dan keadilan sosial menjadikannya figur penting dalam sejarah gerakan buruh nasional. Tragedi yang menimpanya pada 1993 bahkan menarik perhatian internasional dan menjadi pengingat kuat tentang pentingnya perlindungan terhadap hak-hak pekerja. Oleh karena itu, pembangunan museum yang didedikasikan untuk mengenang perjuangannya merupakan langkah strategis dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus menanamkan nilai-nilai keadilan sosial kepada generasi muda.
Pembangunan Museum Marsinah menunjukkan progres signifikan dan ditargetkan rampung menjelang peringatan Hari Buruh Internasional 2026. Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea mengatakan Presiden Prabowo bersama Kapolri dan seluruh pimpinan buruh ada sekitar 115 konfederasi dan federasi di seluruh Indonesia hadir ke Nganjuk untuk memberikan penghormatan pada sejarah perjuangan buruh Indonesia melalui peresmian Museum Marsinah.
Proyek ini bahkan direncanakan diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai bagian dari rangkaian peringatan May Day, yang menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk menunjukkan keberpihakan terhadap buruh. Kehadiran kepala negara dalam agenda tersebut bukan hanya simbolis, tetapi juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam membangun komunikasi yang lebih erat dengan kalangan pekerja dan serikat buruh.