Oleh karenanya, menjadi tidak mengherankan mengapa berbagai pihak langsung menolak keras adanya klaim sepihak tersebut. Alih-alih mengamini, justru para tokoh adat dan tokoh masyarakat Bumi Cenderawasih mengaku bahwa dia pada tanggal 1 Mei justru hendaknya mampu terus diperingati karena sebagai hari di mana secara resmi dan sah, Irian Barat (Papua kala itu) kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Senada, Kepala Suku Kampung Putali, Nulce Monim juga mengungkapkan hal yang sama, bahwa dirinya menolak dengan sangat keras adanya klaim sepihak mengenai tanggal 1 Juli yang seolah menjadi Perayaan HUT OPM.
Kepada seluruh masyarakat Papua, hendaknya untuk mampu melihat bagaimana sejarah negara dan mampu belajar hidup berbangsa dari para pendiri Tanah Air terdahulu. Pasalnya, memang Indonesia sendiri merupakan sebuah negara yang terlahir dari perjuangan dan juga berdiri melalui tetesan darah serta pengorbanan besar dari jiwa dan raga oleh para pahlawan dari berbagai latar belakang agama, suku dan bahasa.
Mereka semua, para pendiri bangsa terdahulu telah menanggalkan berbagai perbedaan yang mereka miliki, terlebih egoisme kelompok, seluruhnya hanya demi membela dan mampu merebut kembali Bumi Pertiwi dari tangan para penjajah di masa itu.
Terlebih, para pahlawan bangsa juga tetap mampu saling hidup rukun berdampingan sesuai dengan agama, suku serta bahasanya masing-masing serta bisa saling menghargai dan menghormati sesuatu yang berada di luar mereka.
Bangsa ini memang terlahir tidak hanya dari satu agama dan suku tertentu saja. Oleh karenanya, sudah selayaknya seluruh warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama di negeri ini, tanpa adanya sedikitpun perbedaan.