Fundamental ekonomi Indonesia juga memperlihatkan sejumlah indikator positif. Neraca perdagangan pada September 2026 mencatat surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS, dengan ekspor mencapai 27,59 miliar dolar AS dan impor sebesar 24,23 miliar dolar AS. Sementara itu, inflasi Oktober tercatat 0,22 persen secara bulanan dan 3,23 persen secara tahunan.
Aktivitas manufaktur turut memberikan sentimen positif. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur S&P Global Indonesia meningkat menjadi 54,0 pada Oktober 2026 dari 52,4 pada September. Angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi.
Namun, tekanan eksternal tetap perlu diperhatikan. Analis mata uang Ibrahim Assuabi menyebut ketidakpastian hubungan Iran dan AS serta risiko gangguan pelayaran di Selat Hormuz menjadi perhatian pasar energi global.
“Jalur perairan tersebut tetap menjadi perhatian utama bagi pasar energi. Serangan terhadap kapal tanker dan pembatasan ekspor minyak Iran telah meningkatkan biaya pengiriman serta asuransi,” ujar Ibrahim Assuabi, analis mata uang.