Hal tersebut sejalan dengan PMI manufaktur Indonesia yang naik menjadi 52,4 persen pada September 2026 dari 49 persen pada Agustus.
“Kenaikan ini menandakan sektor manufaktur kita sedang ekspansi,” katanya.
Aditya menilai peningkatan ekspor dan aktivitas manufaktur berpotensi memperluas lapangan kerja apabila mendorong ekspansi usaha, bukan sekadar peningkatan produktivitas industri yang sudah ada.
Ia berharap keberlanjutan tren tersebut dapat memperkuat pertumbuhan industri sekaligus meningkatkan penyerapan tenaga kerja.
Struktur ekspor Indonesia, lanjutnya, masih didominasi sebagian komoditas seperti CPO dan nikel, sehingga pemerintah mendorong industrialisasi dan hilirisasi untuk meningkatkan ekspor produk manufaktur bernilai tambah.
“Kenaikan harga komoditas global memang bisa mengerek nilai ekspor dan surplus perdagangan, tetapi sifatnya fluktuatif akibat gejolak geopolitik dan gangguan rantai pasok. Karena itu, penguatan hilirisasi diperlukan untuk meningkatkan nilai tambah dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah,” ujar Aditya.