Aditya menilai peningkatan aktivitas produksi perlu diikuti penguatan industri bernilai tambah agar manfaatnya meluas ke dunia usaha dan tenaga kerja. Karena itu, hilirisasi perlu terus dikembangkan, tidak hanya pada komoditas seperti kelapa sawit dan nikel, tetapi juga produk manufaktur yang memiliki rantai produksi lebih panjang. Diversifikasi produk dan pasar ekspor menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan pada fluktuasi harga komoditas mentah.
Investasi juga menjadi penggerak penting. Kementerian Investasi dan Hilirisasi mencatat realisasi investasi Januari – September 2026 mencapai Rp1.539,2 triliun, tumbuh 7,3 persen secara tahunan, serta menyerap 2.194.496 tenaga kerja.
Pemerintah terus mendorong penguatan industri, optimalisasi devisa hasil ekspor sesuai ketentuan, dan pengawasan perdagangan komoditas strategis agar manfaat kegiatan ekspor semakin besar bagi perekonomian nasional.