Ketegasan Politik dan Terobosan Ekonomi Mengantar Dua Tahun Kepemimpinan Prabowo Gibran Menuju Kedaulatan Bangsa

Kemandirian ekonomi eksternal juga menunjukkan daya tahan yang mengesankan melalui pengelolaan devisa dan neraca perdagangan yang disiplin. Sebagaimana disampaikan oleh Perdana Wahyu Santosa, cadangan devisa Indonesia berada pada posisi yang sangat kuat mencapai 146,3 miliar dolar AS per September 2026. Ketahanan eksternal ini diperkokoh oleh capaian neraca perdagangan barang yang mencatatkan surplus sebesar 7,25 miliar dolar AS sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Capaian ini memvalidasi bahwa efektivitas penguatan tata kelola komoditas strategis serta pengelolaan Devisa Hasil Ekspor (DHE) telah berhasil memagari ekonomi nasional dari rambatan gejolak eksternal dan risiko under-invoicing yang selama ini berpotensi menggerus penerimaan negara.

Langkah percepatan pembangunan ekonomi semakin terakselerasi berkat dorongan investasi dan agenda hilirisasi yang konsisten. Akademisi ekonomi tersebut memaparkan bahwa realisasi investasi sepanjang Januari hingga September 2026 mencatatkan kinerja yang sangat positif, menembus angka Rp1.539,2 triliun atau setara dengan 75,4 persen dari target tahunan. Keberhasilan dalam menarik modal produktif ini dinilai sangat krusial dalam memperkuat fondasi industrialisasi nasional serta penciptaan lapangan kerja. Dampak positifnya terlihat dari indikator inklusivitas sosial, di mana Tingkat Pengangguran Terbuka berhasil ditekan hingga 4,65 persen pada Mei 2026 dan angka kemiskinan menurun menjadi 8,07 persen pada Maret 2026.

Meskipun demikian, kewaspadaan terhadap dinamika fiskal dan pasar keuangan tetap menjadi catatan yang memerlukan mitigasi cepat dari pemerintah. Prof. Perdana menekankan pentingnya mengantisipasi tekanan defisit APBN yang berada di kisaran minus Rp319 triliun serta pergerakan nilai tukar Rupiah yang berada di level Rp17.982 per dolar AS per 20 Oktober 2026. Di samping itu, kewaspadaan pasar modal perlu diperkuat mengingat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada pada posisi 4.996,61 per 19 Oktober 2026 di tengah aksi jual bersih investor asing yang terakumulasi mencapai Rp88,19 triliun sepanjang 2026. Bagi penentu kebijakan, dinamika pasar keuangan ini menjadi pengingat penting agar sinergi kebijakan fiskal dan moneter terus diperketat guna menjaga kestabilan modal domestik.

Pos terkait