Ia menambahkan, MBG juga berpotensi memberikan dampak ekonomi melalui penyerapan tenaga kerja dan peningkatan permintaan bahan pangan dari petani, peternak, serta pelaku usaha lokal. Agar manfaatnya optimal, pelaksanaan program perlu memprioritaskan masyarakat yang membutuhkan, termasuk di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).
“MBG bukan sekadar memberikan makanan, tetapi juga menggerakkan ekonomi di sekitar dapur dan desa. Apabila masih terdapat kekurangan, pelaksanaannya perlu dievaluasi dan diperbaiki agar manfaatnya semakin luas,” tegas Ujang.
Dari perspektif ekonomi, Prof. Perdana Wahyu Santosa, Pengamat Ekonomi GREAT Institute sekaligus Guru Besar Universitas YARSI, menilai MBG berpotensi menciptakan efek berganda bagi perekonomian masyarakat, terutama melalui perputaran belanja pangan dan penciptaan lapangan kerja di pedesaan.