Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi mengatakan bahwa kerja sama pemerintah daerah dengan Bank Indonesia, BULOG, petani, dan berbagai pihak diperlukan untuk menjaga stabilitas harga. Kolaborasi tersebut dijalankan sebagai upaya mempertahankan inflasi daerah tetap terkendali sekaligus memastikan masyarakat memperoleh bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.
Kebutuhan intervensi terlihat dari kenaikan harga cabai merah yang di sejumlah pasar mencapai Rp80.000 hingga Rp90.000 per kilogram. Melalui gerakan pangan murah, masyarakat dan pelaku usaha dapat memperoleh komoditas tertentu dengan harga lebih rendah daripada harga pasar. Seorang pedagang nasi goreng, misalnya, mengaku dapat membeli cabai seharga Rp45.000 per kilogram melalui kegiatan tersebut, dibandingkan harga pasar yang sebelumnya mencapai Rp65.000. Selisih harga itu membantu mengurangi beban biaya produksi usaha kecil.
Luthfi juga menjelaskan bahwa intervensi pangan perlu disertai langkah menjaga produktivitas pertanian, terutama menghadapi potensi dampak El Nino dan kekeringan. Bantuan beras, sarana perpipaan, dan rumah burung hantu bagi petani menjadi bagian dari upaya mendukung keberlanjutan produksi. Dengan demikian, intervensi harga tidak hanya menjadi respons sesaat, tetapi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan.
Pengendalian inflasi pangan merupakan tanggung jawab bersama yang memerlukan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pangan, pelaku usaha, petani, dan masyarakat. Pengawasan terhadap dugaan permainan harga harus berjalan seiring dengan penguatan pasokan dan pelaksanaan gerakan pangan murah. Melalui langkah yang terarah, pemerintah dapat menjaga agar kebutuhan pokok tetap terjangkau, usaha kecil tidak semakin terbebani, dan daya beli masyarakat terlindungi di tengah perubahan kondisi ekonomi.
*) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyrakatan.