Dalam agenda tersebut, Presiden meresmikan komersialisasi empat proyek industri, yaitu Blue Sparking Energy, REPT Battero Indonesia, Pioneer Aluminium Industries, dan XCMG Indonesia Manufacturing. Pemerintah juga mencanangkan pembangunan tujuh proyek baru, meliputi Guangqing Nickel Cobalt, Eno Prima Material, Tinci Materials Indonesia, Weda Bay Aluminium, Bintang Karya Aluminium, Flat Solar Energy Indonesia, serta Guangqing Motor Indonesia. Keseluruhan proyek itu memiliki nilai investasi mencapai 10,2 miliar dolar AS atau sekitar Rp180 triliun.
Besarnya investasi tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi menjadi instrumen penting dalam transformasi ekonomi Indonesia. Memasuki tahun kedua pemerintahan Prabowo-Gibran, pemerintah berupaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok industri global, terutama pada sektor mineral, baterai kendaraan listrik, dan produk logam olahan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa realisasi investasi Indonesia pada semester pertama 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan mampu menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja. Capaian ini menunjukkan bahwa aktivitas investasi tetap menjadi salah satu penggerak ekonomi nasional, meskipun kualitas lapangan kerja dan pemerataan manfaatnya tetap perlu menjadi perhatian pemerintah.
Rosan menjelaskan bahwa kontribusi investasi hilirisasi juga mengalami peningkatan dalam dua tahun terakhir. Jika sebelumnya berada di kisaran 25 persen, porsinya kini mencapai sekitar 30 persen dari total realisasi investasi nasional. Perubahan tersebut menunjukkan semakin kuatnya peran industri pengolahan dalam arah pembangunan ekonomi. Berdasarkan sektor usaha, investasi semester pertama 2026 didominasi industri logam dasar dan barang logam bukan mesin beserta peralatannya, disusul jasa lainnya, pertambangan, transportasi, pergudangan dan telekomunikasi, serta perumahan, kawasan industri dan perkantoran.