Model prasmanan juga menawarkan peluang mengurangi makanan terbuang. Siswa dapat mengambil makanan sesuai kebutuhannya. Jika masih kurang, mereka dapat menambah selama makanan tersedia. Pola seperti ini berbeda dengan porsi seragam yang belum tentu sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Laporan awal yang diterima BGN menunjukkan tingkat sisa makanan dapat ditekan dalam pelaksanaan uji coba. Jika temuan tersebut konsisten, sistem prasmanan dapat memberi manfaat ganda: menjaga kualitas makanan sekaligus mengurangi pemborosan pangan.
Di SPPG Garuda Trowulan, Mojokerto, yang dikelola Yayasan Segoro Agung, konsep prasmanan juga diarahkan menjadi bagian dari pendidikan karakter. Pendiri sekaligus Pembina Pondok Pesantren Segoro Agung, KH Bimo Agus Sunarno, melihat meja makan sebagai ruang pembelajaran sederhana tetapi penting.
Menurutnya, anak dapat belajar mengantre, mengambil makanan secara tertib, memilih porsi secukupnya, memperhatikan kebutuhan teman, serta bertanggung jawab terhadap makanan yang telah diambil. Kebiasaan tersebut dapat menanamkan disiplin, kejujuran, kepedulian, dan penghargaan terhadap makanan.
Perspektif ini penting. MBG memang berangkat dari persoalan pemenuhan gizi, tetapi pelaksanaannya dapat dirancang agar memberikan manfaat pendidikan yang lebih luas.
Febrian Candra, Mitra SPPG Ngawen 1, juga menempatkan sistem prasmanan sebagai pengembangan dari studi terhadap sistem makan sekolah Jepang atau Kyushoku. Dalam pendekatan tersebut, aktivitas makan di sekolah tidak dipisahkan dari proses pendidikan. Di dalamnya terdapat edukasi gizi, kebersihan, keterlibatan siswa, pengendalian sisa makanan, serta pembiasaan perilaku hidup bersih dan sehat.
BGN sendiri belum memastikan kapan sistem prasmanan akan diterapkan lebih luas. Evaluasi masih dilakukan terhadap kesiapan dapur, tenaga pelaksana, sekolah, jumlah penerima manfaat, hingga karakteristik wilayah. Sikap ini penting karena inovasi dalam program publik berskala besar seharusnya tidak diburu oleh target perluasan semata.