Oleh : Ben Rizkiansyah )*
Arus investasi yang terus mengalir ke Indonesia menjadi salah satu indikator penting dalam melihat prospek ekonomi nasional. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, serta perubahan lanskap perdagangan internasional, realisasi investasi Indonesia tetap menunjukkan pertumbuhan. Perkembangan ini menjadi bagian penting dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan investasi dan hilirisasi sebagai instrumen untuk memperkuat perekonomian nasional.
Data Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun. Angka tersebut tumbuh 7,2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya dan telah mencapai 49,5 persen dari target investasi nasional 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun.
Capaian tersebut juga berdampak terhadap penyerapan tenaga kerja. Investasi yang terealisasi selama enam bulan pertama 2026 menyerap 1.448.862 tenaga kerja Indonesia. Dengan demikian, investasi tidak hanya tercermin dalam nilai modal yang masuk, tetapi juga mulai diterjemahkan menjadi aktivitas produksi dan kesempatan kerja di berbagai daerah.
Komposisi investasi juga memperlihatkan peran yang relatif berimbang antara modal asing dan domestik. Pada semester I 2026, Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp507,6 triliun, sedangkan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) mencapai Rp502,9 triliun. Kondisi ini menunjukkan pertumbuhan investasi nasional tidak semata-mata bergantung pada modal asing, tetapi juga ditopang aktivitas dunia usaha domestik.