Mahasiswa KKN-PPM UGM Alor Carita 2026 Ciptakan BIOReeFTEK, Solusi Sederhana untuk Konservasi Terumbu Karang di Kabola

KALABAHI, WARTAALOR.COM – Menjaga kelestarian ekosistem laut ternyata tidak selalu memerlukan teknologi canggih dan biaya besar. Berpijak dari gagasan itu, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) Alor Carita 2026 dari Program Studi Perikanan menghadirkan BIOReeFTEK (Bioreef Technology), sebuah inovasi konservasi terumbu karang yang diterapkan di Pantai Batu Mahakopong, RT 5, Kelurahan Kabola Kecamatan Kabola, Kabupaten Alor. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 30 Juli 2026 dan menjadi wujud nyata kolaborasi antara mahasiswa dan masyarakat setempat dalam merawat ekosistem pesisir.

Kabupaten Alor selama ini dikenal memiliki kekayaan bawah laut yang tidak hanya menjadi daya tarik wisata, tetapi juga sumber penghidupan bagi masyarakat pesisir. Sayangnya, kondisi terumbu karang di kawasan ini menghadapi berbagai tekanan, mulai dari kenaikan suhu air laut akibat perubahan iklim hingga kerusakan fisik akibat aktivitas manusia. Salah satunya adalah karang yang terinjak saat masyarakat melakukan sulu, yaitu kegiatan mencari ikan, kerang, atau biota laut lainnya di area pesisir saat air laut sedang surut. Kebiasaan ini, bila dilakukan tanpa kehati-hatian, dapat merusak struktur karang, menghambat pertumbuhan karang muda, dan menurunkan kualitas habitat berbagai biota laut.

Menanggapi persoalan tersebut, mahasiswa KKN dari Program Studi Perikanan UGM menginisiasi BIOReeFTEK sebagai metode konservasi yang murah, sederhana, dan mudah diadopsi oleh masyarakat. Inovasi ini memanfaatkan bahan-bahan yang mudah ditemukan, yaitu semen, besi beton, dan batok kelapa. Batok kelapa lebih dulu dilubangi, lalu dipasang pada dudukan berbahan semen yang diperkuat besi beton, sehingga terbentuk media yang kokoh untuk ditempatkan di dasar perairan.

Bacaan Lainnya

Pemilihan batok kelapa bukan tanpa alasan. Bahan ini dinilai efektif berfungsi sebagai substrat alami, tempat larva atau tunas karang menempel dan tumbuh. Melalui media ini, mahasiswa berharap regenerasi karang baru dapat berjalan lebih optimal, sehingga turut mempercepat proses pemulihan ekosistem terumbu karang di wilayah pesisir Kabola.

Kegiatan pembuatan dan pemasangan BIOReeFTEK dilakukan di Pantai Batu Mahakopong bersama Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) sebagai mitra utama. Keterlibatan Pokmaswas dinilai krusial, mengingat kelompok ini memiliki peran menjaga kawasan pesisir sekaligus memastikan keberlanjutan upaya konservasi setelah program KKN berakhir.

Mahasiswa dan anggota Pokmaswas bahu-membahu, mulai dari tahap pembuatan struktur BIOReeFTEK hingga proses penempatannya di area yang berdekatan dengan terumbu karang. Kolaborasi ini tidak hanya menghasilkan media konservasi fisik, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengetahuan tentang pentingnya menjaga ekosistem laut secara berkelanjutan.

Ketua Pokmaswas, Sardin La Atang, menyampaikan apresiasinya atas inovasi yang dibawa mahasiswa UGM. Menurutnya, teknologi sederhana seperti BIOReeFTEK membuka harapan baru bagi upaya pelestarian terumbu karang di wilayah pesisir Kabola.

Ungkapan tersebut mencerminkan bagaimana inovasi ini diterima baik oleh masyarakat, terutama karena menggunakan bahan yang mudah didapat, biaya yang terjangkau, dan berpotensi diterapkan secara mandiri oleh warga di masa mendatang.
Melalui program BIOReeFTEK, Tim KKN-PPM UGM Alor Carita 2026 berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga terumbu karang sebagai penyangga kehidupan pesisir semakin meningkat.

Sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat ini diharapkan menjadi langkah awal memperkuat upaya konservasi laut di Kabupaten Alor, sehingga kekayaan bawah laut daerah ini tetap lestari dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. (*)

Penulis: Tim KKN UGM

Pos terkait