KALABAHI, WARTAALOR.COM – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diberikan kepada siswa-siswi di Kota Kalabahi, Kecamatan Teluk Mutiara, Kabupaten Alor, mengalami perubahan selama bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Menu yang sebelumnya berupa makanan siap santap kini diganti menjadi menu kering seperti buah-buahan, telur rebus, susu, roti, dan camilan kemasan.
Perubahan menu tersebut menimbulkan berbagai tanggapan dari masyarakat, khususnya para orang tua siswa. Sebagian dari mereka mempertanyakan apakah menu yang dibagikan masih sesuai dengan konsep program MBG atau justru lebih menyerupai makanan ringan (snack).
Perbincangan ini mencuat di media sosial Facebook setelah sejumlah pengguna mengunggah foto menu MBG yang diterima siswa di beberapa sekolah di Kalabahi.
Salah satunya diunggah oleh akun Facebook Brilian Simon Nius Klaping pada 27 Februari 2026. Dalam unggahannya, ia menampilkan menu MBG yang terdiri dari satu potong roti, satu butir telur rebus, satu bungkus kacang goreng kemasan, serta dua buah rambutan. Dalam keterangan unggahan tersebut disebutkan bahwa menu itu dibagikan kepada siswa-siswi SD GMIT 01 Kalabahi, namun tidak dijelaskan secara rinci mitra dapur atau penyedia makanan dari program tersebut.
Unggahan tersebut kemudian mendapat berbagai komentar dari warganet. Seorang pengguna Facebook bernama Marsya Adelia mengaku menu tersebut dinilai kurang mengenyangkan bagi anak-anak.
“Adohh pak guru ini yg pantas anak dong minta uang jajan bilang makan ini dong tdk kenyang sama skali,” tulis Marsya dalam kolom komentar.
Postingan serupa juga diunggah oleh akun Facebook Cendrawati Anwar pada 26 Februari 2026. Dalam unggahan tersebut ditampilkan menu MBG yang terdiri dari satu potong roti, satu bungkus kacang goreng, satu bungkus kecil abon, dan satu buah jeruk.
Cendrawati juga menuliskan kritik terkait kandungan gizi dan kebersihan makanan yang dibagikan kepada para siswa.
“MBG pagi ini kacang goreng 1 bungkus, abon stngah sendok teh, roti kukus 1 bungkus dan jeruk 1 buah. Tolong orang-orang dari MBG bisa jelaskan kepada kami para mama-mama ini, dari semua yang dituliskan tadi kira-kira sumber protein, karbohidrat, vitamin, zat besi dan mineral ada di mana saja,” tulisnya.
Ia juga menyoroti kondisi buah jeruk yang masih terlihat kotor saat diterima siswa.
“Tolong jeruknya dibersihkan dulu sebelum dikemas dan dibagikan ke sekolah-sekolah. Anak-anak kami bukan tidak makan sebelum ke sekolah, tetapi karena ini program pemerintah jadi mereka setiap hari mengambil MBG tersebut,” tulisnya.
Unggahan itu juga memicu diskusi di kolom komentar. Seorang warganet bernama Necin Sanu menilai menu tersebut perlu dievaluasi agar tetap memenuhi kebutuhan gizi siswa.
“Perlu dievaluasi, mungkin bisa ditambahkan sumber protein seperti telur atau daging. Karbohidrat sudah cukup dari roti dan kacang goreng, sedangkan vitamin dan mineral bisa didapat dari jeruk atau buah lainnya,” tulisnya.
Sementara itu, pengguna lain bernama Ida Nasyaf mempertanyakan perkiraan nilai anggaran dari menu yang dibagikan tersebut.
“Total semua berapa harganya?” tulisnya dalam kolom komentar.
Di sisi lain, dalam salah satu diskusi di kolom komentar Facebook, seorang pengguna bernama Carlyn Lenggu yang diduga merupakan bagian dari pengurus dapur MBG menjelaskan bahwa menu tersebut merupakan penyesuaian selama bulan Ramadan.
Menurutnya, beberapa sekolah yang memiliki siswa Muslim diberikan menu kering agar dapat dibawa pulang dan dikonsumsi saat berbuka puasa.
“Selama bulan puasa memang beberapa sekolah yang ada siswa Muslim akan diberikan ‘menu kering’ untuk dimakan di rumah saat berbuka nanti. Namun jika sekolah merasa keberatan dan ingin tetap dilayani menu basah, pihak sekolah bisa menyampaikannya kepada pihak dapur melalui Aslap atau langsung menghubungi Kepala SPPG yang bersangkutan agar dapat menyesuaikan,” tulisnya.
Meski demikian, hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi dari pihak pengelola dapur MBG, yayasan penyelenggara, maupun instansi terkait mengenai kebijakan perubahan menu tersebut serta standar kandungan gizi yang diberikan kepada para siswa selama bulan Ramadan.
Sejumlah masyarakat berharap adanya klarifikasi sekaligus evaluasi dari pihak terkait agar pelaksanaan program MBG tetap memenuhi tujuan utamanya, yakni menyediakan makanan bergizi bagi para siswa. ***(joka)
