Jakarta – Indonesia memiliki kekayaan sumber daya energi baru dan terbarukan (EBT) yang luar biasa besar, khususnya panas bumi, yang kini menjadi tulang punggung dalam upaya mewujudkan swasembada energi sekaligus transisi menuju energi hijau. Pemerintah bersama BUMN energi dan berbagai pemangku kepentingan tengah mempercepat langkah konkret untuk memaksimalkan potensi ini sebagai bagian dari strategi besar mencapai Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Dadan Kusdiana, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi energi panas bumi mencapai 23 gigawatt (GW), namun sejauh ini baru dimanfaatkan sekitar 11 persen dari kapasitas tersebut. Ini menunjukkan bahwa masih terbuka ruang sangat besar bagi pengembangan lebih lanjut.
“Demikian pula, meskipun potensi energi surya melebihi 3.000 GW, penerapannya masih menjadi tantangan. Kita juga punya potensi tenaga air, terutama di wilayah Indonesia Timur, dan potensi bioenergi yang sangat besar,” ujar Dadan dalam sebuah forum energi terbarukan di Jakarta.
Potensi panas bumi yang besar ini tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara dengan cadangan geothermal terbesar di dunia, tetapi juga sebagai peluang strategis untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Upaya pemanfaatan panas bumi kini didorong secara lebih masif oleh berbagai pihak, termasuk badan usaha milik negara.
