Ketua Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kaltara, Datuk Iskandar Zulkarnaen juga menegaskan bahwa kelompok-kelompok radikal memanfaatkan platform media sosial untuk berebut pengaruh melalui internet. Anak muda menjadi sasaran empuk bagi mereka sehingga penting literasi media bagi generasi muda agar memahami apakah suatu berita adalah hoaks atau bukan, karena salah satu jalan masuk di media sosial adalah hoaks dan ujaran kebencian.
Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube telah menjadi sarang bagi propaganda radikal. Algoritma platform ini dirancang untuk menyajikan konten yang menarik bagi pengguna, tanpa memandang apakah konten tersebut berbahaya atau tidak. Akibatnya, konten radikal dapat menyebar dengan cepat dan mencapai audiens yang luas.
Di wilayah lainnya, Ketua FKTP Provinsi Bali, I Gusti Agung Ngurah Wiryanata mengungkapkan bahwa keterlibatan perempuan dan anak dalam jaringan radikalisme dan terorisme di tanah air terus meningkat, tidak hanya dari sisi pelaku tapi dari sisi kualitasnya. Keterpaparan perempuan dan anak-anak ini juga diperkuat dari hasil penelitian yang dilakukan BNPT tahun 2023, yang kasusnya menunjukkan bahwa indeks potensi radikalisme lebih tinggi pada perempuan, generasi Z dan masyarakat yang aktif di internet. Hal ini mengindikasikan bahwa anak-anak dan perempuan menjadi kelompok yang rentan terkena dampak daripada tindakan-tindakan radikalisme dan terorisme.
Media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan YouTube telah menjadi sarang bagi propaganda radikal. Algoritma platform ini dirancang untuk menyajikan konten yang menarik bagi pengguna, tanpa memandang apakah konten tersebut berbahaya atau tidak. Akibatnya, konten radikal dapat menyebar dengan cepat dan mencapai audiens yang luas.
Eks Napiter, Arif Budi Setyawan mengatakan penyebaran paham radikalisme dan terorisme di media sosial mejadi salah satu masalah krusial. Hal ini dikarenakan media sosial menjadi platform yang sangat efektif untuk menyebarkan pesan-pesan radikal karena sifatnya yang mudah diakses dan cepat menyebar. Para pelaku radikalisme memanfaatkan ini untuk merancang narasi yang mempengaruhi pemikiran orang banyak dengan cepat.
