Selain operasi pemadaman, pemerintah juga memanfaatkan teknologi untuk mengatasi kepekatan asap. Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dilakukan untuk membantu mengurai asap karhutla sekaligus mendukung kondisi atmosfer agar tidak menghambat masuknya musim hujan di wilayah terdampak.
Upaya tersebut dilakukan melalui penyemaian awan menggunakan natrium klorida (NaCl) serta pemanfaatan dry ice atau es kering. Penggunaan dry ice ditujukan untuk membantu mengganggu lapisan inversi atmosfer yang dapat memerangkap asap di dekat permukaan. Dengan demikian, asap diharapkan dapat terurai dan kondisi udara berangsur membaik.
BMKG juga menjalin kerja sama dengan Thailand dalam pemanfaatan dry ice. Pengujian menggunakan radiosonde dilakukan untuk memperoleh informasi kondisi atmosfer dan menentukan titik penyemaian secara lebih akurat. Pendekatan berbasis data ini penting agar pelaksanaan OMC dapat disesuaikan dengan dinamika cuaca dan kebutuhan di wilayah terdampak. Meski demikian, modifikasi cuaca perlu berjalan beriringan dengan pemadaman langsung, sebab pengurangan asap tidak serta-merta berarti seluruh sumber api telah berhasil dipadamkan.
Di sisi lain, penanganan karhutla juga membutuhkan dukungan anggaran yang memadai. Pemerintah pusat menyalurkan bantuan tahap kedua senilai Rp1,2 triliun kepada pemerintah daerah di enam provinsi yang mengalami karhutla terburuk. Bantuan tersebut diarahkan untuk mendukung penanganan kebakaran sekaligus memperkuat perlindungan masyarakat terdampak.
Dukungan itu mencakup pelayanan kesehatan, pembagian masker, penyediaan oksigen portabel, dan fasilitas pemulihan. Anggaran juga dapat digunakan untuk mendukung upaya pemadaman serta memenuhi kebutuhan logistik personel yang bertugas di lapangan. Dengan dukungan tersebut, pemerintah daerah diharapkan dapat merespons kebutuhan masyarakat secara lebih cepat sekaligus menjaga keberlangsungan operasi penanganan karhutla.