Nezar menjelaskan bahwa nikel dan tembaga tidak semata-mata bernilai sebagai komoditas pertambangan. Kedua mineral tersebut memiliki peran penting dalam pembangunan ekosistem AI, mulai dari baterai dan peralatan kelistrikan hingga jaringan transmisi serta sistem pendukung pusat data. Dengan kontribusi sekitar 62 persen terhadap produksi tambang nikel dunia, Indonesia memiliki posisi strategis dalam rantai pasok mineral global. Akan tetapi, keunggulan tersebut harus diimbangi dengan tanggung jawab lingkungan dan sosial agar manfaat ekonominya tidak menimbulkan beban jangka panjang.
Karena itu, Nezar mengingatkan bahwa hilirisasi harus melampaui aktivitas pengolahan mineral di dekat lokasi tambang. Proses tersebut perlu disertai peningkatan kinerja lingkungan, ketertelusuran bahan baku, praktik ketenagakerjaan yang bertanggung jawab, penggunaan energi rendah karbon, serta pengelolaan limbah dan air yang lebih baik. Kepentingan masyarakat sekitar juga harus menjadi bagian penting dalam setiap tahapan pengembangan industri.
Pengembangan AI sendiri membutuhkan lebih dari sekadar ketersediaan mineral. Pembangunan pusat data memerlukan pasokan listrik yang andal, jaringan serat optik, lahan, sistem pendingin, cip, tenaga ahli, serta tata kelola yang bertanggung jawab. Oleh sebab itu, agenda digital harus berjalan seiring dengan kebijakan energi, industri, pembiayaan, dan perlindungan lingkungan. Indonesia memang memiliki peluang menjadi pusat AI regional berkat letak geografis, pertumbuhan ekonomi digital, dan ketersediaan talenta, tetapi peluang tersebut harus ditopang kesiapan infrastruktur dan kemampuan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Hilirisasi dalam dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran membuka kesempatan bagi Indonesia untuk membangun pusat pertumbuhan ekonomi yang lebih merata dan berdaya saing. Dengan tata kelola yang baik, perlindungan lingkungan, serta keberpihakan pada pengembangan tenaga kerja lokal, hilirisasi dapat menjadi fondasi bagi transformasi ekonomi Indonesia yang berkelanjutan.