Salah satu perkembangan penting terlihat dari penyebaran investasi ke luar Pulau Jawa. Rosan menyampaikan bahwa lebih dari 75 persen realisasi investasi berada di luar Jawa. Kondisi ini menjadi sinyal positif bagi upaya memperluas pemerataan ekonomi, mengingat aktivitas industri dan investasi selama bertahun-tahun cenderung terkonsentrasi di wilayah tertentu. Apabila didukung pembangunan infrastruktur, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan keterlibatan pelaku usaha lokal, hilirisasi berpeluang menciptakan pusat ekonomi baru di berbagai daerah.
Maluku Utara menjadi contoh perubahan tersebut. Wilayah yang selama ini dikenal sebagai penghasil mineral kini berkembang menjadi salah satu pusat pengolahan industri nasional. Produk ekspornya juga semakin beragam, mulai dari feronikel, nickel matte, Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), nickel sulfate hingga cobalt. Pergeseran dari ekspor bahan mentah menuju produk olahan memperlihatkan peluang Indonesia memperoleh manfaat ekonomi yang lebih besar dari kekayaan alamnya.
Pertumbuhan investasi, penyerapan lebih dari 1,4 juta tenaga kerja pada semester pertama 2026, peningkatan porsi investasi hilirisasi, serta pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik menjadi sejumlah capaian pemerintah selama setahun terakhir. Perkembangan tersebut menunjukkan arah kebijakan yang berupaya menghubungkan sumber daya alam dengan industri pengolahan dan kebutuhan teknologi masa depan. Meski demikian, keberhasilan jangka panjang juga harus diukur dari kualitas pekerjaan, peningkatan kemampuan industri nasional, pemerataan manfaat ekonomi, dan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, turut menekankan pentingnya menghubungkan hilirisasi mineral dengan pengembangan industri kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI). Nezar menyatakan bahwa pengolahan mineral Indonesia perlu diarahkan untuk mendukung pembangunan infrastruktur digital yang tangguh, efisien, dan berkelanjutan. Menurutnya, ketika dunia membutuhkan bahan baku untuk transisi energi dan digital, Indonesia harus memastikan rantai nilai yang terbentuk memberikan manfaat berkelanjutan bagi semua pihak.