Sekolah Rakyat menerima siswa berdasarkan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), terutama kelompok Desil 1 dan 2, tanpa seleksi akademik. Kondisi tersebut membuat pemetaan kemampuan dan kebutuhan siswa menjadi semakin penting agar proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik.
Pendekatan individual juga memungkinkan sekolah memberikan dukungan yang lebih sesuai terhadap kondisi sosial, psikologis, dan kemampuan belajar siswa. Guru berperan dalam pembelajaran akademik, sementara wali asuh dan wali asrama mendukung aspek pengasuhan serta kehidupan siswa di lingkungan sekolah.
Model tersebut menunjukkan bahwa kesetaraan pendidikan bukan sekadar memberikan kesempatan bersekolah. Kesetaraan juga membutuhkan layanan yang mampu merespons perbedaan kondisi setiap peserta didik.