Sekolah Rakyat Bawa Kesetaraan Pendidikan, dari Wacana Jadi Layanan Nyata

Pandangan tersebut menunjukkan satu prinsip penting dalam pendidikan yang berkeadilan: perlakuan yang sama belum tentu menghasilkan kesempatan yang sama. Anak dengan kemampuan akademik berbeda membutuhkan strategi pembelajaran berbeda. Begitu pula anak yang menghadapi persoalan psikososial membutuhkan pendampingan yang tidak dapat digantikan hanya dengan tambahan jam pelajaran. Dalam konteks Sekolah Rakyat, hasil asesmen idealnya menjadi dasar bagi rencana perkembangan individual setiap siswa.

Konsekuensinya, keberhasilan sekolah tidak cukup dinilai dari capaian akademik. Saifullah menekankan bahwa Sekolah Rakyat juga diarahkan membangun karakter, keterampilan, kemampuan teknologi, dan kesiapan siswa untuk melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja. Orientasi tersebut membuat pendidikan ditempatkan sebagai proses mempersiapkan anak menghadapi kehidupan, bukan sekadar menyelesaikan jenjang sekolah.

Sistem asrama kemudian menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Pendidikan berlangsung bukan hanya ketika guru menyampaikan pelajaran, tetapi juga melalui kebiasaan yang dibangun setiap hari. Kemandirian, kedisiplinan, tanggung jawab, interaksi sosial, dan kemampuan mengelola diri dapat dilatih melalui kehidupan bersama. Namun, model ini sekaligus menuntut kualitas pengasuhan yang kuat karena ruang pendidikan menjadi jauh lebih luas daripada kelas.

Pengalaman di Sekolah Rakyat Terintegrasi I Sukoharjo memberikan gambaran mengenai tantangan tersebut. Anggota Komisi VIII DPR RI Hetifah Sjaifudian menilai sistem boarding memberikan ruang strategis untuk membangun karakter peserta didik. Ia melihat masa awal siswa tinggal di asrama sebagai periode adaptasi yang penting karena mereka harus belajar mengurus diri sendiri, menjaga lingkungan, mengikuti kegiatan ekstrakurikuler, serta menjalani aktivitas bersama.

Pos terkait