Neraca perdagangan Januari-Agustus 2026 yang mencatat surplus 7,25 miliar dolar AS turut memperkuat optimisme tersebut. Ekspor industri pengolahan tumbuh 6,62 persen, sementara impor didominasi bahan baku dan barang modal. Kondisi ini menunjukkan aktivitas produksi nasional terus bergerak dan kebutuhan dunia usaha terhadap kapasitas produksi tetap terjaga.
Pemulihan PMI manufaktur menjadi sinyal positif lainnya. PMI meningkat menjadi 52,4 dari sebelumnya 49,8 pada Agustus. Kenaikan pesanan baru dan pesanan ekspor memperlihatkan bahwa aktivitas industri mulai mendapatkan momentum menjelang akhir tahun. Pemerintah memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut melalui kebijakan yang mendorong investasi, produksi, hilirisasi, dan peningkatan daya saing industri nasional.
Optimisme juga terlihat dari sektor pasar keuangan. Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Hernawan B. Sasongko menyampaikan bahwa likuiditas dan resiliensi pasar modal domestik tetap terkendali meskipun pasar global mengalami volatilitas. Jumlah investor pasar modal bahkan bertambah 1,03 juta orang menjadi 32,17 juta investor. Hingga akhir September, penghimpunan dana melalui Penawaran Umum telah mencapai Rp186,03 triliun.
Rangkaian indikator tersebut menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia memiliki modal yang kuat untuk memasuki fase berikutnya. Tantangan global tetap perlu diantisipasi, tetapi pemerintah memiliki ruang untuk memperkuat pertumbuhan melalui kebijakan yang konsisten, koordinasi lintas sektor, dan percepatan reformasi struktural.
Dengan fondasi makroekonomi yang terjaga, investasi yang terus tumbuh, industri yang mulai menguat, serta daya beli yang tetap diperhatikan, Indonesia memiliki peluang besar mempertahankan momentum hingga 2027. Di bawah pemerintahan Prabowo, konsistensi menjaga stabilitas sekaligus mendorong transformasi ekonomi menjadi modal penting untuk mewujudkan pertumbuhan yang lebih tinggi dan kesejahteraan rakyat yang semakin luas.