Dua Tahun Prabowo–Gibran, Apresiasi Penguatan Pertahanan, Selamat HUT ke-81 TNI

Oleh: Indah Prameswari)*

Memasuki dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan momentum Hari Ulang Tahun ke-81 TNI, penguatan pertahanan menjadi salah satu agenda yang layak mendapat apresiasi seiring kebutuhan menjaga kedaulatan di tengah perubahan lingkungan strategis. HUT ke-81 TNI menjadi momentum untuk melihat bahwa pertahanan negara tidak hanya ditentukan oleh jumlah personel dan kecanggihan alat utama sistem persenjataan, tetapi juga oleh kemampuan negara membangun sistem pertahanan yang mampu menjangkau seluruh wilayah Indonesia.

Indonesia memiliki karakter geografis yang luas dengan ribuan pulau, wilayah perbatasan yang panjang, serta kekayaan alam yang membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Karena itu, pembangunan pertahanan perlu diarahkan tidak hanya untuk menghadapi ancaman militer, tetapi juga memastikan kehadiran negara dapat dirasakan masyarakat ketika menghadapi bencana, keadaan darurat, dan berbagai tantangan keamanan lainnya.

Presiden Prabowo Subianto menjelaskan alasan penguatan TNI berkaitan erat dengan luas wilayah dan kebutuhan menghadirkan sistem pertahanan yang lebih merata. Ia menyoroti jumlah kabupaten yang mencapai 514 wilayah dan menilai keterbatasan jumlah satuan dibandingkan luas wilayah membuat kehadiran unsur pertahanan belum sepenuhnya merata.

Menurut Prabowo, penguatan kehadiran TNI juga berkaitan dengan perlindungan kekayaan alam Indonesia. Ia mengaitkan keterbatasan pengawasan di sejumlah wilayah dengan munculnya praktik seperti pembalakan liar, pertambangan ilegal, dan pemanfaatan kawasan yang tidak sesuai ketentuan.

Momentum HUT ke-81 TNI turut memperlihatkan arah tersebut melalui rencana penguatan organisasi dan satuan TNI. Sebelumnya, TNI menyampaikan rencana peresmian satuan baru pada puncak peringatan, termasuk lima komando daerah militer baru, meski perkembangan terakhir menyebut perayaan puncak dipindahkan ke Mabes TNI Cilangkap dan digelar lebih sederhana karena banyak prajurit tengah bertugas dalam penanganan bencana.

Perubahan format peringatan tersebut justru memperlihatkan sisi lain dari fungsi pertahanan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Kehadiran prajurit dalam operasi penanganan bencana menjadi pengingat bahwa kekuatan TNI juga memiliki fungsi kemanusiaan ketika masyarakat menghadapi keadaan darurat.

Penguatan pertahanan juga tidak dapat dilepaskan dari perkembangan kerja sama internasional. Dalam percakapan telepon dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pada September 2026, pembahasan mengenai peningkatan kerja sama perdagangan dan industri pertahanan menjadi salah satu agenda yang dibicarakan kedua pemimpin.

Bacaan Lainnya

Direktorat Komunikasi Republik Turki menyampaikan bahwa Erdogan menegaskan komitmen mengambil langkah nyata untuk mempererat hubungan bilateral Indonesia-Turki, termasuk pada sektor industri pertahanan. Kerja sama semacam ini memperlihatkan bahwa pembangunan kemampuan pertahanan dapat berjalan bersamaan dengan penguatan hubungan strategis dan pengembangan industri pertahanan antarnegara.

Bagi Indonesia, kerja sama industri pertahanan memiliki arti lebih luas daripada pengadaan peralatan. Transfer pengetahuan, penguatan kemampuan industri nasional, pengembangan teknologi, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting agar modernisasi pertahanan tidak berhenti pada pembelian alutsista, tetapi ikut membangun kemampuan nasional.

Kebutuhan tersebut semakin relevan dengan penetapan APBN 2027 sebesar Rp4.106,26 triliun. Kementerian Pertahanan memperoleh alokasi sekitar Rp189 triliun, termasuk salah satu pos Kementerian/Lembaga dengan anggaran terbesar dalam APBN 2027.

Besarnya anggaran tentu perlu berjalan bersama perencanaan yang terukur dan akuntabilitas penggunaan anggaran. Pertahanan merupakan investasi jangka panjang sehingga setiap rupiah yang dialokasikan perlu diarahkan pada peningkatan kemampuan nyata, baik melalui modernisasi alutsista, kesiapan prajurit, penguatan industri pertahanan maupun pembangunan sistem pertahanan yang sesuai kebutuhan geografis Indonesia.

Untuk itu. dalam konteks penguatan pertahanan maritim, kehadiran KRI Sriwijaya-100 juga menunjukkan pentingnya membangun kekuatan yang mampu menjawab karakter geografis Indonesia sebagai negara kepulauan. Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menegaskan bahwa kehadiran kapal tersebut memiliki arti strategis bagi Indonesia yang memiliki wilayah laut luas dan posisi geografis yang penting.

Agus menilai Indonesia membutuhkan kekuatan pertahanan laut yang modern dan tangguh untuk menghadapi tantangan di wilayah perairan nasional. Keberadaan KRI Sriwijaya-100 diharapkan dapat memperkuat kemampuan TNI Angkatan Laut, memperluas jangkauan operasi, serta meningkatkan kemampuan operasi gabungan dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran dan HUT ke-81 TNI karena itu dapat menjadi momentum untuk melihat pertahanan sebagai sistem yang terus berkembang. Tantangannya bukan hanya menambah kekuatan, tetapi memastikan setiap peningkatan kapasitas benar-benar menjawab kebutuhan wilayah, perkembangan teknologi, perubahan ancaman, serta keselamatan masyarakat.

Kekuatan pertahanan juga membutuhkan hubungan yang sehat antara TNI dan rakyat. Tema HUT ke-81 TNI, “TNI Kuat Bersama Rakyat Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur”, menempatkan kedekatan dengan masyarakat sebagai bagian dari pesan peringatan tahun ini.

Pada titik ini, modernisasi pertahanan dapat dipahami sebagai proses membangun ketahanan nasional yang lebih luas. TNI membutuhkan alutsista yang memadai, organisasi yang mampu menjangkau wilayah Indonesia, prajurit yang profesional, serta kemampuan menjalankan tugas pertahanan sekaligus membantu masyarakat dalam situasi kemanusiaan secara kuat, adaptif, tangguh, dan berkelanjutan. Selamat HUT ke-81 TNI.

)*penulis merupakan Pemerhati Isu Keamanan

Pos terkait