KALABAHI, WARTAALOR.COM – Proses pemulihan kesehatan Bupati Alor, Iskandar Lakamau, kembali menjadi sorotan publik. Ia dikabarkan memilih menjalani pengobatan alternatif dengan metode pijat tradisional di wilayah Morba, Kecamatan Alor Barat Daya, meskipun sebelumnya direkomendasikan untuk menjalani terapi medis lanjutan oleh dokter spesialis saraf.
Informasi yang dihimpun, sebagaimana diberitakan Victory News menyebutkan bahwa Bupati Iskandar sempat mendatangi seorang terapis tradisional yang dikenal sebagai dukun urut di wilayah tersebut pada pertengahan April 2026. Praktisi pijat tersebut diduga bernama Metu Legi, yang dikenal masyarakat setempat sebagai penyedia layanan pengobatan tradisional, khususnya untuk kasus patah tulang dan terapi pijat.
Sumber yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kunjungan tersebut turut disertai dokumentasi berupa foto, yang memperlihatkan Bupati Iskandar tengah menjalani terapi pijat pada bagian kaki kanan. Dalam foto tersebut, tampak beberapa orang membantu menopang tubuh bupati, sementara seorang terapis melakukan pemijatan di bagian betis.
“Saya kenal bapak Metu Legi, baju hitam ini. Memang dia biasa urut kalau orang patah tulang,” ungkapnya, Senin, (4/5/2026).
Sumber ini menyampaikan bahwa yang bersangkutan memang dikenal luas sebagai tukang urut. Banyak masyarakat datang berobat ke beliau, terutama untuk kasus tulang.
Riwayat Kesehatan dan Penanganan Medis
Sebagaimana diketahui, Iskandar Lakamau sebelumnya mengalami gangguan kesehatan serius yang diduga stroke sejak Juli 2025 saat berada di Kupang. Ia sempat menjalani operasi di RSU Siloam Kupang sebelum dirujuk ke Rumah Sakit Pusat Otak Nasional untuk penanganan lebih lanjut.
Setelah menjalani perawatan intensif, Bupati kembali ke Kalabahi pada awal November 2025. Namun hingga kini, kondisi fisiknya dilaporkan belum pulih sepenuhnya. Beberapa fungsi motorik, khususnya di bagian kanan tubuh, masih mengalami gangguan, sehingga aktivitas sehari-hari masih membutuhkan bantuan.
Ketua Tim Percepatan Pemulihan Kesehatan Bupati Alor yang juga Direktur RSUD Kalabahi, dr. Lodywik Anjasias Ata Alopada, sebelumnya telah menyampaikan rekomendasi medis berdasarkan hasil konsultasi dengan dokter spesialis saraf di RSPON Jakarta.
Dalam keterangan tertulis, tim medis merekomendasikan agar Bupati menjalani serangkaian terapi rehabilitasi secara komprehensif, meliputi terapi okupasi, terapi wicara, serta rehabilitasi medik lainnya. Evaluasi lanjutan juga disarankan dilakukan di fasilitas kesehatan yang memiliki sarana penunjang lengkap, seperti RSPON Jakarta.
Terapi okupasi sendiri merupakan metode rehabilitasi yang bertujuan membantu pasien mengembalikan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Berdasarkan informasi dari Kementerian Kesehatan RI, terapi ini umumnya dilakukan secara rutin, sekitar tiga kali dalam seminggu, untuk memperoleh hasil yang optimal.
Terapi tersebut lazim diberikan kepada pasien dengan gangguan fisik maupun neurologis, termasuk penderita stroke, cedera otak, serangan jantung, hingga kondisi pasca amputasi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Tim Percepatan Pemulihan Kesehatan Bupati maupun Direktur RSUD Kalabahi belum memberikan tanggapan resmi terkait kabar pengobatan alternatif yang dijalani oleh Bupati.
Situasi ini menimbulkan perhatian publik, mengingat pentingnya konsistensi dalam menjalani terapi medis pasca-stroke guna mempercepat pemulihan fungsi tubuh dan mencegah komplikasi lanjutan. (*)
Catatan Redaksi:
Informasi dalam berita ini masih memerlukan konfirmasi lanjutan dari pihak terkait untuk memastikan keakuratan dan keseimbangan pemberitaan.
