Menurut Suahasil, kebijakan fiskal tetap diarahkan untuk mendukung prioritas pembangunan Presiden Prabowo Subianto, mulai dari ketahanan pangan dan energi, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, penguatan usaha kecil dan menengah, hingga hilirisasi sumber daya alam. Pemerintah juga mendorong investasi produktif dan penciptaan lapangan kerja bernilai tambah untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi.
Ia menambahkan, tekanan geopolitik, fragmentasi perdagangan, volatilitas pasar, dan kenaikan suku bunga global tetap menjadi risiko yang perlu diantisipasi. Karena itu, pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara dukungan terhadap aktivitas ekonomi dan ketersediaan penyangga fiskal untuk menghadapi tantangan berikutnya.
Guru Besar Ekonomi Moneter Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menilai disiplin menjaga defisit di bawah 3 persen penting untuk mempertahankan kepercayaan pasar keuangan.