Pada awal Oktober 2026, sebanyak 13 dapur tambahan diluncurkan di Provinsi Papua, dengan 10 di antaranya berada di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Namun, ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak cukup diukur dari jumlah dapur, melainkan dari ketepatan distribusi dan jumlah anak yang benar-benar menerima manfaat.
Lebih jauh, MBG berpotensi menggerakkan ekonomi lokal apabila bahan pangan dipasok petani, nelayan, peternak, dan pelaku UMKM Papua. “Manfaatnya bisa dua sekaligus, yaitu anak-anak mendapatkan gizi, sementara ekonomi masyarakat lokal ikut bergerak,” kata Billy.
Ia berharap perluasan program menjangkau kampung-kampung terpencil dengan pengawasan mutu makanan, keamanan pangan, dan distribusi yang konsisten. Menurutnya, masa depan Papua tidak hanya ditentukan pembangunan infrastruktur, tetapi juga kualitas generasi yang dipersiapkan sejak dini.