Penyelesaian tanggul darurat sepanjang 200 meter di Sungai Batang Air Dingin, Kota Padang, merupakan salah satu langkah konkret untuk melindungi kawasan permukiman. Infrastruktur tersebut dibangun untuk mengurangi risiko banjir susulan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar aliran sungai. Upaya ini penting karena keselamatan warga tidak cukup dijamin melalui proses evakuasi, tetapi juga melalui tindakan pencegahan yang dapat mengurangi ancaman ketika hujan kembali turun.
Pemulihan akses jalan nasional Tapan–Batas Jambi juga memperlihatkan bagaimana penanganan infrastruktur berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat. Setelah longsor menimbun 14 titik sepanjang sekitar 16,2 kilometer, ruas jalan tersebut kembali dapat dilalui melalui satu jalur. Meski belum sepenuhnya pulih, pembukaan akses menjadi langkah penting untuk mengurangi keterisolasian wilayah, mendukung mobilitas warga, serta mempermudah distribusi kebutuhan pokok dan bantuan kemanusiaan.
Dalam konteks kebencanaan, infrastruktur bukan sekadar persoalan pembangunan fisik. Jalan yang dapat dilalui memungkinkan warga menjangkau fasilitas kesehatan, mendistribusikan hasil usaha, dan melanjutkan kegiatan sehari-hari. Begitu pula tanggul, sistem pengairan, dan jaringan air bersih yang berfungsi menjadi penopang kehidupan masyarakat. Oleh sebab itu, percepatan perbaikan infrastruktur harus ditempatkan sebagai bagian dari upaya memulihkan keamanan, kesejahteraan, dan kemandirian warga terdampak.
Namun, pemulihan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat juga harus memastikan kebutuhan kelompok rentan tidak terabaikan. Ketua DPR RI Puan Maharani menekankan bahwa keselamatan warga merupakan prioritas utama dalam penanganan banjir bandang di Padang. Ia mendorong Pemerintah memastikan kebutuhan dasar pengungsi terpenuhi, termasuk tempat berlindung yang aman, fasilitas kesehatan, selimut, dan pakaian. Perhatian khusus juga diperlukan bagi anak-anak, ibu hamil dan menyusui, lansia, penyandang disabilitas, serta masyarakat dengan penyakit bawaan.