Pandangan itu sejalan dengan penilaian Pakar Energi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Ary Bachtiar, yang menilai diplomasi Bahlil ke sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Rusia, sebagai langkah taktis untuk mengamankan pasokan minyak dalam jangka pendek. Ary juga menekankan pentingnya meningkatkan produksi minyak domestik, mengembangkan bahan bakar nabati, serta mempercepat modernisasi kilang dan pembenahan tata kelola hulu migas.
Masukan tersebut penting karena ketergantungan pada impor membuat Indonesia terpapar perubahan harga internasional, biaya pengiriman, dan risiko gangguan pasokan. Penguatan produksi dalam negeri memang membutuhkan investasi, teknologi, dan waktu, tetapi konsistensi kebijakan dapat membantu memperkecil kesenjangan antara kebutuhan BBM nasional dan kemampuan produksi domestik.
Di sisi lain, jaminan pasokan nasional perlu diterjemahkan menjadi ketersediaan nyata di setiap stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), terutama ketika masyarakat menghadapi kebutuhan mobilitas yang mendesak. Ketahanan energi akan terasa manfaatnya apabila pengemudi kendaraan, pelaku usaha, pengangkut barang, dan pekerja dapat memperoleh BBM tanpa harus menghabiskan waktu serta biaya untuk mencari tempat pengisian yang masih memiliki stok.
Pengalaman di Provinsi Bali memperlihatkan bahwa pengelolaan distribusi di tingkat daerah membutuhkan perhatian khusus, terutama ketika terjadi lonjakan kebutuhan atau ketidakseimbangan pasokan antarwilayah. PT Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus kembali menambah pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Bali sebanyak 26.200 kiloliter (kl) yang dijadwalkan tiba bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober 2026 untuk menjaga ketersediaan dan memenuhi kebutuhan masyarakat.
Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menjelaskan bahwa pemantauan stok dan konsumsi di lapangan menjadi dasar yang kuat dalam mengoptimalkan penyaluran BBM ke SPBU. Dengan rata-rata konsumsi Pertalite di Bali yang mencapai sekitar 2.200 kiloliter per hari, penyesuaian distribusi berbasis kebutuhan wilayah terbukti efektif memastikan setiap tambahan pasokan terdistribusi secara lancar dan tepat sasaran kepada masyarakat.