Dari sisi ketersediaan sarana pendukung, peningkatan infrastruktur di tingkat nasional berjalan sangat cepat dan masif. Langkah Badan Gizi Nasional (BGN) mengaktifkan 480 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak di 16 provinsi wilayah Indonesia bagian timur menjadi bukti nyata pemerataan akses kesehatan anak bangsa. Penambahan secara bertahap ini membawa total operasional dapur SPPG di seluruh tanah air menembus angka 27.022 unit. Berdirinya dapur-dapur gizi hingga ke wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) mempertegas komitmen pemerintah dalam mengikis ketimpangan fasilitas antardaerah.
Terkait dengan ekspansi layanan tersebut, Kepala BGN Sudaryono menegaskan pentingnya jangkauan yang tepat sasaran, terutama di wilayah-wilayah yang masih memiliki angka kekerdilan anak atau stunting yang tinggi. Pemetaan masalah gizi yang presisi menjadi kunci utama untuk memotong rantai kemiskinan antargenerasi. Dengan hadirnya pasokan nutrisi yang merata melalui unit SPPG, seluruh anak Indonesia berkesempatan mendapatkan tumbuh kembang yang optimal tanpa terkendala batasan geografis maupun latar belakang status sosial ekonomi keluarga.
Dampak positif MBG juga merambah ke sektor ekonomi produktif di tingkat lokal. Skala pelaksanaan yang masif di berbagai daerah secara otomatis menciptakan efek ganda yang menggerakkan roda perekonomian rakyat. Kebutuhan bahan pangan harian dalam jumlah besar; seperti beras, sayur, telur, daging, ikan, dan susu; membuka ruang pasok yang stabil bagi para pelaku usaha di daerah. Para petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperoleh jaminan pasar yang pasti dan berkelanjutan. Penyerapan produk lokal ini memutar roda ekonomi desa, membuka lapangan kerja baru, dan menaikkan pendapatan masyarakat di tingkat akar rumput secara signifikan.