Oleh : Fransiskus Nawipa )*
Pembangunan ekonomi Papua memerlukan pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan, tetapi juga menempatkan masyarakat kampung sebagai subjek utama pembangunan. Selama bertahun-tahun, tantangan geografis, keterbatasan akses pasar, dan tingginya biaya distribusi menjadi hambatan yang menyebabkan potensi ekonomi kampung belum berkembang secara optimal. Dalam konteks tersebut, kehadiran Koperasi Desa Merah Putih menjadi strategi yang relevan untuk memperkuat fondasi ekonomi desa sekaligus membangun kemandirian masyarakat secara berkelanjutan.
Program Koperasi Desa Merah Putih yang menjadi salah satu prioritas pemerintah nasional menunjukkan arah kebijakan yang menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di Papua, program tersebut memiliki arti yang sangat penting karena sebagian besar masyarakat masih menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan usaha berbasis sumber daya lokal. Melalui koperasi, berbagai potensi tersebut dapat dikelola secara kolektif, profesional, dan mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi masyarakat.
Komitmen pemerintah terlihat dari alokasi anggaran yang cukup signifikan. Pemerintah Provinsi Papua Barat memproyeksikan sekitar Rp194,1 miliar atau 58,03 persen dari total Dana Desa tahun 2026 diarahkan untuk mendukung operasional Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa penguatan koperasi tidak sekadar menjadi program administratif, melainkan bagian dari strategi nasional untuk membangun fondasi ekonomi desa yang kokoh.
Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Papua Barat, Legius Wanimbo, memandang bahwa optimalisasi Dana Desa untuk pengembangan koperasi merupakan upaya pemerintah dalam memperkuat ekonomi kampung melalui pengelolaan usaha yang produktif dan berkelanjutan. Menurutnya, dana yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk penguatan kelembagaan, penyediaan modal usaha, pembangunan sarana dan prasarana, hingga pengembangan layanan logistik dan pemasaran produk unggulan masyarakat.
Pandangan tersebut menunjukkan bahwa koperasi tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, melainkan menjadi pusat aktivitas ekonomi desa. Keberadaan gudang penyimpanan, gerai pemasaran, fasilitas logistik, dan dukungan permodalan akan menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menghubungkan hasil produksi masyarakat dengan pasar yang lebih luas.
Di Papua, tantangan utama yang selama ini dihadapi masyarakat kampung adalah panjangnya rantai distribusi dan terbatasnya akses pemasaran. Banyak hasil pertanian, perikanan, dan perkebunan dijual dengan harga rendah karena petani dan nelayan tidak memiliki posisi tawar yang kuat. Koperasi hadir untuk memutus rantai ketergantungan tersebut dengan memberikan wadah kolektif yang mampu meningkatkan daya saing produk lokal.
Implementasi program tersebut mulai terlihat di berbagai daerah. Di Kampung Warsansan, Distrik Biak Utara, pembangunan gerai Koperasi Desa Merah Putih menjadi langkah nyata dalam memperkuat aktivitas ekonomi masyarakat. Keberadaan gerai koperasi tidak hanya menyediakan sarana usaha, tetapi juga menjadi pusat distribusi dan pemasaran produk lokal.
Gubernur Papua, Matius D. Fakhiri, menilai bahwa pembangunan koperasi merupakan bagian dari upaya memperkuat ekonomi masyarakat melalui pemanfaatan potensi yang dimiliki setiap kampung. Menurutnya, program tersebut memberikan kesempatan yang lebih besar bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha sekaligus meningkatkan produktivitas ekonomi lokal.
Pendapat tersebut memperlihatkan bahwa keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kemampuan daerah dalam mengidentifikasi potensi unggulan setiap kampung. Papua memiliki kekayaan sumber daya alam yang beragam, mulai dari hasil pertanian dataran tinggi, komoditas perkebunan, hingga potensi perikanan yang sangat besar. Jika seluruh potensi tersebut dikelola melalui sistem koperasi yang modern, maka manfaat ekonominya akan lebih besar dan dirasakan langsung oleh masyarakat.
Penguatan koperasi juga mendapat dukungan dari berbagai pemerintah daerah di Papua. Di Kabupaten Sorong, pembangunan gerai koperasi dipandang sebagai bagian dari penguatan kelembagaan ekonomi masyarakat. Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM Kabupaten Sorong, Marthen Pajala, menilai bahwa gerai koperasi akan menjadi pusat aktivitas ekonomi masyarakat yang mampu mendukung kebutuhan pokok sekaligus pemasaran hasil produksi petani dan nelayan.
Di Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya juga memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan koperasi. Bupati Jayawijaya, Atenius Murib, menegaskan bahwa koperasi merupakan instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan warga.
Namun demikian, keberhasilan Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran yang tersedia. Tata kelola yang profesional, transparan, dan akuntabel menjadi faktor utama yang harus dijaga. Pemerintah kampung perlu melaksanakan musyawarah desa khusus, memilih pengurus secara terbuka, menyusun perencanaan usaha yang matang, serta memastikan pengelolaan keuangan berjalan sesuai regulasi.
Peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi kebutuhan penting. Pengurus koperasi harus memiliki kemampuan manajemen, administrasi, pemasaran, dan pengelolaan usaha agar koperasi tidak hanya berdiri secara formal, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Pendampingan dari pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih di Papua merupakan strategi yang tepat dalam memperkuat fondasi ekonomi desa. Program tersebut menghadirkan peluang bagi masyarakat kampung untuk mengelola potensi lokal secara kolektif, meningkatkan produktivitas, memperluas akses pasar, serta memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat. Dengan dukungan pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan partisipasi aktif masyarakat, koperasi dapat menjadi instrumen pembangunan yang mampu mendorong kesejahteraan sekaligus mempercepat kemajuan Papua dari kampung-kampung yang mandiri dan produktif.
)* Penulis adalah Mahasiswa Papua di Yogyakarta