Oleh: Winna Nartya *)
Setiap kali nilai tukar rupiah melemah, sebagian kalangan terburu-buru menyimpulkan bahwa pelemahan rupiah saat ini akan terus berlanjut dan menjadi pertanda krisis yang lebih besar. Padahal, dalam ilmu ekonomi modern, pergerakan nilai tukar tidak dapat dibaca secara sederhana. Kurs merupakan salah satu variabel yang paling sensitif terhadap sentimen global, sehingga sering kali bergerak lebih cepat dibandingkan perubahan fundamental ekonomi yang sebenarnya. Sejumlah indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada dalam kondisi yang relatif kuat dan sehat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah belum memberikan dampak signifikan terhadap aktivitas perekonomian nasional. Menurutnya, kondisi fiskal pemerintah tetap berada dalam koridor yang aman karena depresiasi nilai tukar saat ini telah diperhitungkan dalam asumsi penyusunan APBN. Purbaya juga menegaskan bahwa fokus pemerintah bukan sekadar menjaga kurs dalam jangka pendek, melainkan memastikan pertumbuhan ekonomi nasional tetap kuat dalam jangka pendek, menengah, dan panjang. Pemerintah tidak sedang menghadapi situasi darurat ekonomi. Justru yang dilakukan adalah mengelola dinamika pasar keuangan secara terukur sambil menjaga momentum pertumbuhan ekonomi tetap berjalan.
Dalam perspektif ekonomi internasional, pelemahan mata uang tidak selalu identik dengan lemahnya ekonomi suatu negara. Pada periode tertentu, nilai tukar sering menjadi “peredam kejut” atau shock absorber terhadap tekanan global. Ketika terjadi gejolak geopolitik, kenaikan suku bunga negara maju, atau penguatan dolar Amerika Serikat, pasar keuangan biasanya bereaksi lebih cepat dibandingkan sektor riil.
Pandangan ini sejalan dengan analisis Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, yang menilai bahwa rupiah saat ini berada dalam fase overshooting, yakni kondisi ketika pelemahan nilai tukar bergerak lebih dalam dibandingkan kondisi fundamental ekonomi jangka panjang Indonesia. Menurutnya, pasar tidak hanya membaca data ekonomi hari ini, tetapi juga merespons berbagai sentimen dan ekspektasi yang berkembang secara global. Ia menegaskan bahwa tekanan terhadap rupiah saat ini tidak berarti fundamental Indonesia melemah secara drastis karena inflasi masih terkendali, sektor perbankan tetap sehat, dan pertumbuhan ekonomi masih berada pada jalur positif.
Konsep overshooting sendiri sudah lama dikenal dalam teori ekonomi internasional melalui pemikiran ekonom Rudiger Dornbusch. Dalam kondisi tertentu, pasar keuangan dapat bereaksi berlebihan terhadap suatu informasi sehingga nilai tukar bergerak lebih jauh dari posisi keseimbangannya. Namun ketika sentimen mulai mereda dan pelaku pasar kembali memperhatikan fundamental ekonomi, nilai tukar biasanya bergerak kembali menuju level yang lebih wajar. Inilah sebabnya mengapa pelemahan rupiah saat ini tidak tepat jika langsung dianggap sebagai tren permanen.
Bahkan jika melihat faktor eksternal, tekanan yang terjadi bukan hanya dialami Indonesia. Penguatan dolar Amerika Serikat berlangsung hampir di seluruh dunia. Mata uang negara-negara Asia seperti yen Jepang, yuan China, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, hingga dolar Singapura juga mengalami tekanan yang sama. Kondisi ini menunjukkan bahwa yang sedang terjadi adalah fenomena global, bukan persoalan spesifik Indonesia.
Selain itu, beberapa indikator domestik justru memperlihatkan ketahanan ekonomi yang cukup baik. Sektor perbankan nasional masih berada dalam kondisi solid. Rasio kecukupan modal (CAR) tetap tinggi, kredit bermasalah masih terjaga, dan fungsi intermediasi berjalan normal. Konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Indonesia juga relatif stabil.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan prospek pertumbuhan ekonomi terbaik di dunia. Di antara negara-negara G20, Indonesia berada pada kelompok dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi setelah India. Prospek inilah yang menurutnya akan tetap menarik bagi investor asing, baik investasi langsung maupun investasi portofolio.
Di sisi lain, pemerintah dan Bank Indonesia juga tidak tinggal diam menjaga stabilitas sektor keuangan. Salah satu langkah yang ditempuh adalah intervensi di pasar obligasi untuk menjaga agar kenaikan yield tidak terlalu tinggi dan tidak memicu arus keluar modal secara berlebihan untuk memastikan investor yang memegang surat utang Indonesia tidak mengalami capital loss yang terlalu besar sehingga kepercayaan terhadap pasar keuangan nasional tetap terjaga. Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa otoritas fiskal dan moneter memiliki instrumen yang memadai untuk meredam gejolak jangka pendek.
Yang juga perlu dipahami masyarakat adalah bahwa nilai tukar bukan satu-satunya indikator kesehatan ekonomi. Negara dengan kurs yang kuat belum tentu memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik. Sebaliknya, negara dengan kurs yang sedang mengalami tekanan belum tentu sedang berada di ambang krisis. Karena itu, masyarakat tidak perlu larut dalam pesimisme. Pelemahan rupiah saat ini lebih tepat dipandang sebagai bagian dari siklus penyesuaian ekonomi global yang bersifat temporer, bukan cerminan keruntuhan fundamental ekonomi Indonesia. Level rupiah saat ini masih terdapat ruang penguatan dalam koordinasi kebijakan yang makin solid dan jika ditambah dengan meredanya ketidakpastian global.
Dengan fundamental yang tetap kuat, sektor keuangan yang stabil, koordinasi pemerintah dan Bank Indonesia yang erat, serta prospek pertumbuhan yang masih menjanjikan, Indonesia memiliki modal yang cukup untuk melewati fase tekanan ini. Seperti banyak episode sebelumnya, gejolak nilai tukar akan berlalu, tetapi fondasi ekonomi yang kuat akan tetap menjadi penopang utama perjalanan pembangunan nasional.
*) Pemerhati Keuangan