BOLOANG, WARTAALOR.COM — Sabtu, 14 Februari 2026 pagi, jurnalis media ini melakukan perjalanan liputan dari Kalabahi, ibu kota Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur, menuju Pulau Pantar untuk meninjau langsung hasil pembangunan Gedung SD GMIT Kalondama II di Boloang, Desa Kalondama Tengah, Kecamatan Pantar Barat Laut. Kunjungan tersebut bertujuan melihat pemanfaatan bantuan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025 yang bersumber dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) RI.
Perjalanan dimulai dari Pelabuhan Alor Kecil, Kecamatan Alor Barat Laut. Rombongan menyeberangi laut menuju Pulau Pantar, mencerminkan tantangan geografis Kabupaten Alor sebagai wilayah kepulauan. Dalam perjalanan, jurnalis didampingi Kepala SD GMIT Kalondama II, Menase Kallung, S.Pd., Gr, serta guru Wens Dua Lau.
Setibanya di Pelabuhan Lianglolong, Kecamatan Pantar, perjalanan dilanjutkan melalui jalur darat menggunakan sepeda motor menuju lokasi sekolah. Kondisi jalan yang menantang di beberapa titik menggambarkan keterbatasan infrastruktur, sekaligus menunjukkan semangat pengabdian tenaga pendidik dan masyarakat dalam memperjuangkan akses pendidikan yang layak.
Sekitar pukul 13.00 WITA, rombongan tiba di lokasi dan disambut hangat oleh masyarakat setempat. Suasana kekeluargaan terasa ketika warga, khususnya para ibu, menyuguhkan hidangan sederhana sebagai bentuk penghormatan kepada tamu.
Bantuan Revitalisasi Pendidikan Senilai Rp1,32 Miliar
Berdasarkan data yang dihimpun di lokasi, SD GMIT Kalondama II menerima bantuan Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Tahun 2025 sebesar Rp1.325.443.291. Dana tersebut digunakan untuk berbagai pekerjaan fisik yang terbagi dalam enam menu dan sembilan subkegiatan, meliputi:
Rehabilitasi dua gedung dengan total lima Ruang Kegiatan Belajar (RKB)
Pembangunan dua unit toilet (satu unit baru dan satu unit rehabilitasi)
Rehabilitasi satu unit perpustakaan
Pembangunan baru satu unit ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
Seluruh pekerjaan dilaksanakan melalui mekanisme swakelola, yang melibatkan partisipasi masyarakat setempat. Skema ini dinilai mampu menjaga mutu pembangunan sekaligus menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas pendidikan.
Kepala SD GMIT Kalondama II, Menase Kallung, menjelaskan bahwa dana tersebut juga dialokasikan untuk kebutuhan pendukung, antara lain:
Pengadaan mebeler: Rp7.662.000
Biaya pengelolaan (honor panitia, transportasi, administrasi): Rp20.536.947
Honor pengawas: Rp23.198.757
Honor perencana: Rp20.561.323
Ia menegaskan bahwa seluruh penggunaan anggaran telah disesuaikan dengan petunjuk teknis yang berlaku dan terbuka terhadap evaluasi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Alor.
Menase Kallung menyampaikan terima kasih kepada pemerintah pusat, khususnya Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, atas bantuan revitalisasi sekolah tersebut.
“Kami juga berterima kasih kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Alor dan para pengawas yang telah memberikan arahan sehingga pekerjaan ini dapat terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Meski pembangunan fisik telah selesai, pihak sekolah masih menghadapi sejumlah kebutuhan, antara lain, mebeler untuk tiga ruang kelas, pembangunan satu unit laboratorium komputer dan rumah jabatan kepala sekolah.
Menurut Menase, keberadaan laboratorium komputer sangat penting karena di wilayah Kalondama terdapat empat satuan pendidikan berbagai jenjang yang dapat memanfaatkannya.
Ketua Komite Sekolah, Sergius Paulus Lamma, mengapresiasi keberhasilan pembangunan yang merupakan hasil kerja sama seluruh pihak.
“Pembangunan ini adalah kerja bersama demi masa depan pendidikan anak-anak di Kalondama Tengah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Kalondama Tengah, Artaban Libing, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat atas bantuan pembangunan sekolah. Namun, ia menyoroti kekurangan tenaga pendidik sebagai tantangan serius.
Saat ini, SD GMIT Kalondama II hanya memiliki satu guru berstatus ASN, yakni kepala sekolah, yang dalam beberapa tahun ke depan akan memasuki masa pensiun.
“Bangunan sekolah sudah sangat baik, tetapi kekurangan guru menjadi persoalan mendesak. Kami berharap pemerintah Kabupaten Alor memberi perhatian serius terhadap kebutuhan tenaga pendidik,” tegasnya.
Kunjungan ini menjadi bukti nyata bahwa upaya pemerataan pendidikan di wilayah kepulauan terus dilakukan. Meskipun harus menempuh perjalanan panjang dan menghadapi keterbatasan infrastruktur, kolaborasi antara pemerintah, tenaga pendidik, dan masyarakat menunjukkan komitmen kuat dalam meningkatkan kualitas pendidikan bagi generasi muda di Pulau Pantar.
Pihak sekolah juga telah melaporkan selesainya proyek kepada Dinas Pendidikan Kabupaten Alor. Dalam waktu dekat, dinas terkait dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan sebelum bangunan digunakan secara penuh untuk kegiatan belajar mengajar. ***(joka)

