Oleh : Astrid Widia )*
Konferensi ke-19 Persatuan Parlemen Negara-Negara Anggota Organisasi Kerja Sama Islam (Parliamentary Union of the OIC Member States/PUIC) yang digelar di Gedung Nusantara, Jakarta, bukan sekadar agenda diplomatik tahunan. Lebih dari itu, forum ini mencerminkan bagaimana diplomasi antarparlemen dapat menjadi kekuatan kolektif dunia Islam untuk membangun solidaritas, teknologi, dan kemanusiaan secara bersamaan.
Ketua Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Mardani Ali Sera menegaskan pentingnya kerja sama yang lebih substansial antara kedua negara, terutama di sektor teknologi pertahanan. Ia menyebut bahwa potensi kolaborasi pengembangan drone menjadi fokus utama dalam pertemuan bilateral dengan anggota Parlemen Turki, Profesor Abdurrahman Dusak.
Saat ini Turki dikenal sebagai negara produsen drone berteknologi tinggi, dan Indonesia telah menjadi salah satu negara pengimpor produk tersebut. Namun, Mardani menyoroti peluang kerja sama yang lebih progresif, yaitu melalui skema joint venture untuk mengembangkan drone generasi baru. Ia menyebut bahwa langkah Kementerian Pertahanan membentuk divisi khusus drone adalah sinyal kuat bahwa Indonesia serius membangun kemandirian teknologi pertahanan.
Langkah ini bukan hanya menunjukkan kesiapan Indonesia sebagai pengguna teknologi, tetapi juga sebagai mitra inovatif yang mampu memproduksi solusi teknologi bersama. Dalam konteks geopolitik dunia Islam yang rentan, kerja sama pertahanan semacam ini dapat menjadi bentuk perlindungan strategis yang tak hanya berbasis kekuatan militer, tapi juga penguatan kapasitas kolektif.
