Pesan Wabup Imran Duru di Peletakan Batu Pertama Gereja Syalom Sawah Lama

  • Whatsapp
Acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Syalom Sawah Lama Kalabahi, 22 Maret 2021/FOTO PEPENK

KALABAHI, WARTAALOR.COM | Kerukunan umat beragama di Kabupaten Alor Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) cukup tinggi. Hal ini diakui Pemerintah Pusat sehingga pada tahun 2017 lalu, Pulau julukan Seribu Moko ini mendapat Harmoni Award dari Kementerian Agama RI. Alor kental dengan istilah ‘Gunung Pantai’ dalam setiap pembangunan pelayanan kemasyarakatan.

Wakil Bupati (Wabup) Alor Imran Duru, S.Pd, M.Pd pada acara peletakan batu pertama pembangunan Gedung Gereja Syalom Sawah Lama Kalabahi, Kecamatan Teluk Mutiara, Senin, (22/3/21) menegaskan, kerukunan dan kebersamaan merupakan modal utama pembangunan rumah ibadah di Kabupaten Alor.

Bacaan Lainnya

“Keterlibatan utuh pengurus Masjid Sawah Lama dari perjalanan gereja sejak dahulu hingga saat ini tidak melihat perbedaan agama. Tujuan terpentingnya adalah rumah ibadah dapat digunakan untuk memberikan pelayanan,” kata Wabup Imran.

Menurut pria asal Dulolong, Kecamatan Alor Barat Laut (ABAL) ini, peranan gereja penting karena selain tempat ibadah, gereja juga merupakan pusat reintegrasi umat dalam membicarakan persoalan-persoalan yang dihadapi umat.

“Jadi gereja sekarang berperan lebih luas. Dia (Gereja) mengintervensi hal-hal yang menyangkut semua aspek kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Berbicara hubungannya dengan pemerintah, Wabup Dua Periode ini menyampaikan, pemerintah tidak menutup mata setiap kegiatan pembangunan gereja .

“Program gereja juga bisa disatukan dengan program pemerintah daerah untuk melaksanakan kegiatan, baik di bidang penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan maupun pembinaan kemasyarakatan termasuk didalamnya kehidupan umat beragama,” tegas Duru.

Mantan Kepala Sekolah SMP Negeri Ampera ini juga berpesan kepada seluruh masyarakat agar mengikuti dan mewarisi semua hal baik yang ditinggalkan leluhur.

“Semangat membangun, sifat memupuk rasa persatuan dan kesatuan harus ada dalam diri kita semua. Rasa persatuan ini juga sama halnya dengan gereja, pendeta dan jemaat. Ketiga unsur ini adalah tubuh Kristus. Kalau pendeta bicara lalu jemaat tidak ikut maka jemaat tersebutlah yang melukai tubuh Kristus. Maka dalam pembangunan ini, persatuan itu yang kita butuhkan,” ungkap Imran Duru seperti dilansir Seputar-NTT.com.

Sementara Ketua DPRD Alor, Enny Anggrek, SH menyampaikan, peletakan batu pertama pembangunan gereja merupakan acara yang sangat penting.

“Batu merupakan lambang sifat, kokoh, kuat. Sebuah bangunan dan batu menimbulkan kesan kesetiaan, jejujuran dan rasa tanggung jawab yang kita harapkan bersama untuk pembangunan rumah Tuhan,” ucap Enny.

Hal utama dalam membangun satu gedung gereja, kata Ketua DPRD, kita harus mengandalkan Tuhan karena bila tanpa Tuhan semuanya akan sia-sia.

“Pembangunan ini harus ada kerjasama dan selalu menggunakan hati karena dengan membangun dengan hati, saya meyakini Tuhan ada bersama kita. Dalam suka cita, kerelaan, kerjasama harus ada dalam diri semua pihak yang terlibat dalam pembangunan. Seberat apapupun pekerjaan yang dilaksanakan pasti akan bisa diselesaikan,” imbuhnya.

Politisi PDI Perjuangan ini juga menegaskan, prinsip utama dalam pembangunan rumah Tuhan adalah persembahan yang didasarkan pada keyakinan dan iman yakni, memberi dengan kerelaan, jangan sedih ketika memberi dan jangan terpaksa saat kita memberi.

“Dikesempatan ini juga saya ucapkan terima kasih kepada ibu, bapak pendeta dan jemaat Syalom serta panitia pembangunan yang dalam suasana covid-19, telah berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung pembangunan ini sembari berharap adanya komitmen bersama untuk terus menjaga kerukunan hidup, antar dan inter agama,” tandas Enny Anggrek.

Dijelaskannya, gereja ditengah masyarakat dengan tujuan pemersatu umat. Tidak hanya menghasilkan manusia yang cerdas, akan tetapi jauh lebih penting adalah bagaimana menghasilkan manusia yang memiliki iman, bermoral dan takut akan Tuhan.

Pada kesempatan itu, Ketua Majelis Klasis Teluk Kabola, Pdt, Kondrat Penlaana, S.Th kepada seluruh jemaat mengatakan, pembangunan gereja ini butuh pengorbanan.

“Kita berdoa dan beriman, tetapi tanpa didukung dengan kesetiaan berkorban untuk sesuatu maka semuanya tidak akan berjalan,” ujar Kondrat.

Lanjutnya, untuk memelihara persatuan dan persaudaraan itu sangat mahal, berat dan tidak gampang, namun untuk membuat hancur persekutuan dan pecah belah itu gampang saja.

“Jadi kekuatan kita selain berdoa dan beriman tetapi juga pelihara persekutuan dan persaudaraan. Momen kebersamaan kita seperti ini banyak dikagumi orang di luar karena kerukunan ini tidak mampu dilakukan orang-orang ditempat lain,” ujar Ketua Majelis Klasis Teluk Kabola.

Kondrat Penlaana kembali mengingatkan, sebagai orang tua, tuturan sejarah kebersamaan harus disampaikan kepada generasi muda untuk bisa diketahui bersama.

“Jangan hanya karena perbedaan lalu kita saling sikut, saya rasa itu tidak ada untungnya. Untuk itu, persekutuan dan persaudaraan ini harus terus dijaga,” tutup Pdt. Kondrat Penlaana, S.Th. *(Joka)

Pos terkait