“Pada situasi tertentu, lapisan inversi membuat asap karhutla tertahan di sekitar permukaan tanah. Penggunaan dry ice dalam OMC ditujukan untuk membantu melemahkan lapisan tersebut sehingga sirkulasi udara membaik dan konsentrasi asap diharapkan menurun,” terang Thomas.
Pada pelaksanaan awal, satu penerbangan menyemai 800 kilogram dry ice di sekitar Palembang. Operasi selanjutnya direncanakan melalui dua penerbangan dengan menyesuaikan kondisi cuaca. Pemantauan menunjukkan jarak pandang di Palembang membaik dibandingkan sebelumnya, meskipun perkembangan atmosfer tetap dievaluasi.
“Jika lapisan inversi masih kuat, kami menggunakan dry ice untuk membantu mengganggu kestabilannya. Ketika kondisi atmosfer mendukung pembentukan awan hujan, penyemaian dapat menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl). Setiap penerbangan ditentukan berdasarkan hasil pemantauan cuaca,” pungkasnya. (*)