Dudung menjelaskan, pemadaman dilakukan melalui operasi darat dan udara. Namun, asap tebal menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan operasi udara sehingga penanganan di lapangan lebih banyak mengandalkan pengerahan personel darat.
“Hasil laporan dari Kepala BNPB bahwa heli, operasional heli ini sudah dilaksanakan dan banyak lebih dominan kepada operasi darat. Karena memang sulit untuk dijangkau dari udara karena memang asapnya terlalu tebal,” katanya.
Upaya pengendalian tersebut menunjukkan perkembangan positif. Berdasarkan pemantauan Kementerian Kehutanan melalui Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) hingga 8 Oktober 2026, jumlah titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi secara nasional turun dari 1.176 menjadi 387 titik. Sementara itu, di enam provinsi prioritas, jumlahnya berkurang dari 543 menjadi 268 titik.