Penilaian tersebut menjadi salah satu pertimbangan Bank Indonesia dalam menentukan kebijakan moneter. Di tengah kenaikan suku bunga oleh sejumlah bank sentral utama dunia, BI memilih mempertahankan suku bunga acuan sebesar 5,75 persen untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas ekonomi dan kebutuhan pertumbuhan. Destry menegaskan, kebijakan suku bunga perlu disesuaikan dengan kondisi domestik agar tidak menahan laju perekonomian.
“Pertumbuhan ekonomi kita masih memiliki ruang untuk meningkat. Karena itu, peluang tersebut perlu dimanfaatkan tanpa memicu tekanan berlebihan terhadap perekonomian,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pasar domestik yang luas, jumlah penduduk usia produktif, dan kekayaan sumber daya alam merupakan keunggulan Indonesia. Potensi tersebut perlu dikelola melalui peningkatan produktivitas dan penguatan industri nasional. Dengan koordinasi kebijakan yang konsisten, Indonesia diharapkan mampu mempertahankan pertumbuhan, memperkuat daya saing, dan menghadapi tekanan global secara lebih tangguh. (*)