Dari SDM hingga Keuangan: Penguatan Tata Kelola Sekolah Rakyat

*) Oleh: Dinda Paramita

Pemerintah tengah membangun fondasi baru dalam sistem pendidikan nasional melalui kehadiran Sekolah Rakyat. Program ini tidak sekadar menghadirkan ruang belajar bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera, melainkan menjadi instrumen strategis untuk memperluas keadilan sosial melalui pendidikan yang terstruktur dan berkelanjutan. Di tengah tantangan kesenjangan kualitas pendidikan antarwilayah dan kelompok ekonomi, Sekolah Rakyat hadir sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap kelompok rentan yang selama ini kerap tertinggal dalam kompetisi pembangunan manusia. Karena itu, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik sekolah, tetapi juga oleh penguatan tata kelola yang profesional, disiplin, dan akuntabel.

Dalam konteks tersebut, perhatian Menteri Sosial Saifullah Yusuf terhadap tata kelola penyelenggaraan Sekolah Rakyat menunjukkan bahwa pemerintah memahami pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Sekolah berbasis boarding school selama 24 jam membutuhkan sistem pengelolaan yang jauh lebih kompleks dibanding sekolah konvensional. Pengaturan sarana prasarana, pola pembelajaran, keamanan peserta didik, hingga pengawasan aktivitas harian harus berjalan dalam satu kesatuan sistem yang disiplin. Dengan demikian, tata kelola menjadi elemen fundamental agar Sekolah Rakyat tidak hanya berdiri secara administratif, tetapi juga mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, produktif, dan berkarakter.

Lebih jauh, Saifullah Yusuf menekankan bahwa penguatan manajemen sumber daya manusia merupakan langkah yang sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan modern. Sekolah yang beroperasi penuh selama 24 jam membutuhkan pembagian tugas yang proporsional dan koordinasi yang presisi antarelemen. Kepala sekolah, tenaga pendidik, pengasuh asrama, petugas keamanan, hingga cleaning service memegang peran penting dalam menjaga kualitas ekosistem pendidikan. Dalam model pendidikan berbasis asrama, setiap unsur memiliki kontribusi terhadap pembentukan karakter siswa. Oleh sebab itu, penguatan SDM tidak cukup hanya melalui rekrutmen, tetapi juga melalui pembinaan kompetensi, standar operasional yang jelas, serta budaya kerja yang disiplin dan profesional.

Pos terkait