Gejolak Global Jadi Momentum Pemerintah Memperkokoh Kemandirian Ekonomi

Oleh : Aldia Putra )*

Ketika banyak negara masih bergulat dengan ketidakpastian global, Indonesia justru menunjukkan sinyal ketahanan yang patut diperhitungkan. Gejolak yang sempat terjadi di Bursa Efek Indonesia bukanlah alarm krisis, melainkan pengingat bahwa ekonomi modern selalu bergerak dalam lanskap yang dinamis. Yang lebih penting, dinamika tersebut membuka ruang refleksi sekaligus mempercepat langkah pemerintah dalam memperkuat tata kelola ekonomi agar semakin transparan, adaptif, dan berdaya tahan tinggi.

Sejumlah pemangku kepentingan melihat guncangan pasar sebagai momentum strategis untuk memperbaiki fondasi sistem keuangan nasional. Dosen Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia, Edy Prasetyono, menekankan bahwa pembenahan tidak boleh bersifat reaktif. Menurutnya, reformasi harus tetap berjalan terlepas dari ada atau tidaknya tekanan pasar, karena tujuan utamanya adalah memastikan perekonomian nasional benar-benar kokoh sekaligus memenuhi standar global.

Ia juga mengingatkan bahwa gejolak pasar tidak dapat dipahami hanya sebagai fenomena finansial semata. Dalam pandangannya, penilaian lembaga internasional seperti MSCI dan Moody’s sering kali membawa perspektif tertentu yang tidak sepenuhnya bebas dari kepentingan. Karena itu, pertanyaan mengenai standar global, siapa yang menetapkan dan untuk kepentingan apa, menjadi relevan bagi negara berkembang yang ingin menjaga kedaulatan ekonominya.

Lebih jauh, Edy mengajak melihat secara jernih dampak riil dari saham yang berfluktuasi. Ia mempertanyakan apakah instrumen yang terguncang benar-benar berkaitan dengan kepentingan publik luas atau lebih mencerminkan kepentingan kelompok terbatas. Perspektif ini penting agar respons terhadap volatilitas pasar tetap proporsional dan tidak menimbulkan kekhawatiran berlebihan.

Pandangan tersebut sejalan dengan peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat FEB UI, Mervin Goklas Hamonangan, yang menyoroti masih dominannya kekuatan aset keuangan global. Ia menilai kebijakan negara-negara besar umumnya berorientasi domestik tanpa selalu mempertimbangkan dampaknya terhadap negara berkembang, sehingga struktur pasar negara berkembang cenderung lebih rentan terhadap perubahan eksternal.

Pos terkait